Pure It, untuk Air Minum yang H2O*

*H2O: Higienis, Hemat, dan… Oh! Sustainable! -_-

Tulisan ini diikutsertakan dalam Kompetisi Blog dari BlogDetik dan Pure It

Enam puluh persen tubuh kita terdiri dari cairan (1). Kehidupan pertama di muka bumi terdapat di air. Air pula yang menyebabkan para ilmuwan mengira ada kehidupan di Planet Mars. Mereka menduga, di sana terdapat canals, atau saluran air.

Meski jumlah air di planet bumi ini sangat berlimpah (lebih dari 70% permukaan bumi diliputi air), namun, 97% di antaranya merupakan air laut. Hanya sekitar 1% yang merupakan air bersih yang layak konsumsi. Dua persen lagi adalah air bersih yang berbentuk es.

Oleh karena itu, air, tepatnya akses terhadap air, termasuk indikator keberhasilan dari poin ketujuh Tujuan Pembangunan Millenium (Millennium Development Goals/MDGs), yaitu memastikan kelestarian lingkungan hidup.  Bunyi dari indikator tersebut tepatnya adalah (2):

  1. Persentase masyarakat yang menggunakan sumber air perpipaan (contoh: PDAM).  Pada tahun 2015 nanti, persentasenya harus mencapai 67,7% untuk daerah perkotaan, dan 52,8% untuk daerah pedesaan (3). Sayangnya, hingga tahun 2008, persentase untuk daerah perkotaan hanya mencapai 30,8%, dan 9% untuk daerah pedesaan. Peningkatan persentase tiap tahunnya pun cenderung lambat😦.
  2. Persentase penduduk yang menggunakan air dari sumber yang terlindungi dengan jarak lebih dari 10 meter dari tempat pembuangan tinja.  Sumber-sumber ini meliputi: air perpipaan, air pompa, air kemasan, air dari sumur atau mata air yang dilindungi, dan air hujan.  Persentasenya harus mencapai 76,1% (perkotaan) dan 65,5% (pedesaan) pada tahun 2015 (3).  Saat ini, baru target untuk daerah perkotaan yang telah tercapai.
  3. Persentase penduduk yang menggunakan air dari sumber yang terlindungi tanpa memperhitungkan jarak dari tempat pembuangan tinja.  Air dari sumber ini kemungkinan besar dapat terkontaminasi.

Dari ketiga indikator di atas, yang paling berkaitan dengan air minum adalah indikator pertama.  Mengapa? Persentase masyarakat yang menggunakan sumber air perpipaan (PDAM) diharapkan tinggi, karena air PDAM seharusnya lebih berkualitas dan lebih sehat dibanding air dari sumber lain.  Air PDAM seharusnya memenuhi standar air minum, yaitu dapat langsung diminum (namanya juga Perusahaan Daerah Air Minum). Sayangnya, di Indonesia, jaringan distribusi PDAM masih kurang layak, sehingga kotoran dapat kembali masuk ke air saat didistribusikan ke rumah pelanggan PDAM (2).  Hal ini membuat air tidak lagi memenuhi standar air minum (bisa langsung diminum), melainkan hanya memenuhi standar air bersih saja (harus dimasak dulu sebelum diminum). Ganti nama dong, jadi Perusahaan Daerah Air Bersih (PDAB). Heuheuheu :s

Atas alasan kepraktisan, kini sebagian masyarakat memilih untuk mengonsumsi air minum dalam kemasan.  Yup, menurut saya, orang lebih memilih air minum kemasan karena lebih praktis dibanding kalau harus memasak air setiap hari. Mengapa saya mengatakan hal itu, karena itulah alasan saya berlangganan air minum kemasan (Galon) ketika saya ngekost dulu🙂. Boro-boro masak air, sarapan aja kadang tidak sempat🙂.

Beberapa Varian Air Minum dalam Kemasan (sumber gambar)

Sayangnya, meski praktis dan (diharapkan) higienis, berlangganan air minum kemasan memiliki beberapa kelemahan, yaitu:

  • Boros.

Studi kasus: (bekas) rumah kost saya

Misalnya, rumah kost saya terdiri dari 8 kamar. Anggap saja setiap penghuni kamar mengonsumsi 1 liter air setiap harinya (mengapa hanya 1 liter? Asumsi saya karena anak kost hanya berada di kosan pada pagi dan malam hari, sehingga konsumsi airnya sedikit).  Maka dalam 1 tahun penghuni rumah kost tersebut mengonsumsi 8×365 liter air, atau 2920 liter air. Mari kita kalikan jumlah tersebut dengan harga aqua galon yang mencapai Rp 11.000 per 19 liter, maka pengeluaran per tahun untuk aqua galon di kosan saya adalah Rp 1.690.526,-. Banyak juga ya.

Pantas, sampai saya lulus kuliah, rencana Bapak Kost untuk memasang wifi di kosan tak pernah terwujud. Uangnya habis buat aqua galon -_-

Nah, jika tidak begitu yakin dengan studi kasus di rumah kost saja, saya memiliki data mengenai pengeluaran air minum rumah tangga-rumah tangga di Indonesia pada tahun 2007.

  • Pengeluaran rata-rata rumah tangga untuk air minum adalah Rp 10.625,- per minggu, atau Rp 552.508,- per tahun
  • 2 dari 5 rumah tangga mengeluarkan lebih dari 500.000 rupiah untuk air minum setiap tahunnya
  • 1 dari 10 rumah tangga mengeluarkan lebih dari 1.000.000 rupiah untuk air minum setiap tahunnya
  • Pengeluaran rata-rata untuk air bahkan lebih besar dari pengeluaran untuk sumber protein seperti telur (Rp 9.053,- per minggu), atau daging sapi, kambing kerbau, dan sejenisnya (Rp 7.836,- per minggu).
  • Pengeluaran rata-rata untuk air mencapai sekitar 5% dari pengeluaran pangan total.
Catatan:
*Data ini diambil dari Survei Aspek Kehidupan Rumah Tangga Indonesia  2007.
*Survei ini dilakukan di Provinsi Sumatera Utara, Sumatera Barat, Sumatera Selatan, Kepulauan Bangka Belitung, Lampung, DKI Jakarta, Jawa Barat, Banten, Jawa Tengah, Jawa Timur, DI Yogyakarta, Bali, Nusa Tenggara Barat, Kalimantan Selatan, Sulawesi Selatan, dan Sulawesi Barat.
*Saya hanya mengambil data dari rumah tangga yang mengeluarkan uang atau membeli air minum (pengeluaran untuk air minum > Rp 0), atau sebanyak 3050 dari 12.972 rumah tangga.
*Jika Anda ingin mengetahui lebih lanjut tentang survei ini (atau ingin mengolah sendiri datanya) silakan klik Rand.org
  • Berbahaya bagi keberlangsungan sumber air tanah.

Ya, air minum kemasan juga bersumber dari air tanah.  Pengambilan air tanah bagi produksi air minum dalam kemasan tidak akan dapat tergantikan dalam waktu singkat.  Hal ini disebabkan ulah manusia seperti penggundulan hutan, serta pembangunan kota dengan beton dan aspal  yang dapat mengganggu penyerapan air.  Akibatnya, suatu saat kita akan mengalami krisis air (4). Apalagi, konsumsi air minum kemasan terus meningkat tiap tahunnya. Indonesia adalah negara dengan konsumsi air minum kemasan kedelapan tertinggi di dunia (3).  Konsumsi air minum dalam kemasan (AMDK) di Indonesia pada tahun 2013 diperkirakan akan mencapai lebih dari 21,78 miliar liter, naik 10 persen dibandingkan tahun ini (19,8 miliar liter) (5).  Ini akan menyebabkan perusahaan air minum kemasan terus menambah kapasitas produksinya.

Kesimpulannya, meski dapat meningkatkan akses terhadap air minum yang berkualitas dalam jangka pendek, penggunaan air minum kemasan secara besar-besaran justru dapat menyebabkan kelangkaan air secara jangka panjang.

Nah lho, gimana nih solusinya? Apakah ada sumber air minum yang tak hanya praktis, sehat, dan higienis, tapi juga hemat dan memastikan keberlangsungan sumber air tanah? Saat ini telah ada teknologi bernama water purifier (penjernih air). Teknologi ini dapat mengolah air bersih menjadi air yang layak minum tanpa harus dimasak terlebih dahulu. Salah satu merk dari produk water purifier ini adalah Pure It.  Kita tinggal menuangkan air tanah atau PDAM ke dalam Pure It, dan… voila! Air tersebut bisa langsung kita minum. Harganya pun relatif terjangkau, hanya Rp 550.000,- dan selanjutnya hanya perlu mengganti Germkill Kit atau filter ketika masa pakainya sudah habis seharga Rp 150.000,- (6).

Pure It

Pure It (sumber gambar)

Praktis kan? Tidak perlu masak air, menghemat pengeluaran untuk air minum kemasan, dan tidak perlu menggotong galon yang berat itu -_-.

Pokoknya H2O: Higienis, Hemat, dan… Oh, sustainable! (agak maksa sih ya :D)

Dan, bapak kost saya bisa menyisihkan uang untuk pasang wifi😀.

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s