Tentang ‘Survey Bayaran’ Pilkada

Gara-gara buka twitter nih, ada link kultwit tentang konsultan survey bayaran Pilkada Jakarta (http://chirpstory.com/li/8485). Sebelumnya, sebenarnya saya kurang setuju dengan istilah ‘survey bayaran’ ini. Mengapa? Yang namanya konsultan atau melaksanakan survey ya pasti dibayar lah. Wajib malah. Masa bikin penelitian ga pake duit?😛 Yang ga wajar justru survei gratisan. Kliennya semena-mena dong, menyuruh orang melakukan survey tanpa dibayar. Hehehe.
Jadi, yang perlu dipermasalahkan bukan bayarannya, tetapi benar atau tidak metode survei-nya. Bagaimana pengambilan sampelnya? Apakah representatif untuk seluruh penduduk Jakarta? Bagaimana validitas dan reliabilitas instrumennya?
Nah, berbicara tentang instrumen, yang jadi masalah di kultwit tadi adalah, lembaga survey tersebut menyebarkan proposal kepada tiap kandidat Gubernur DKI Jakarta. Di proposal tersebut, si lembaga survei ‘menjual’ beberapa kategori, yaitu Kinerja, Pengalaman, Merakyat, Serasi, Pintar, Program Visi-Misi, Jujur, dan Putra Daerah. Kalau sepemahaman saya sih, jadinya tiap kandidat gubernur dapat memilih kriteria apa saja yang perlu ditonjolkan dalam instrumen atau daftar pertanyaan survei. Misalnya ada kandidat yang keunggulannya adalah pengalaman, dan merupakan putra daerah. Maka kriteria tersebut akan menjadi topik utama dalam daftar pertanyaan survey (CMIIW, mudah-mudahan ga salah paham). Dengan menonjolkan kategori yang dia ungguli, praktis jumlah pemilih kandidat tersebut dalam survei pra-pilkada akan meningkat, dibandingkan jika dilakukan survei menggunakan instrumen yang seimbang pada tiap kategorinya (sekali lagi kalau saya salah paham mohon diluruskan ya).
Hm, jadi penasaran, ingin lihat instrumen surveynya. Biasanya sih, lembaga survey tersebut selalu meng-upload laporan resmi surveynya di websitenya. Boleh deh nanti meluncur ke sana, tapi kalau sekarang mau menyelesaikan misi yang lebih mulia dulu, yaitu penelitian saya sendiri, si Skrip**😀
Eh, tapi kalau seandainya yang disebutkan dalam kultwit tersebut benar, sedih juga ya. Penelitian pasti butuh dana yang besar. Dan sayang sekali jika dana yang besar itu digunakan hanya untuk penelitian yang tidak valid (instrumennya). Membohongi diri sendiri, dan masyarakat juga pastinya. Sementara, para peneliti di LIPI saja, masih sulit untuk memperoleh dana bagi penelitiannya. Pffft…
Ya sudah, kembali ke Skrip dulu yaaa…😀

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s