Tersinggung itu Relatif, Bullying itu Absolut

Iya, saya juga agak bingung sih dengan judul di atas😛

Saya cuma sedang agak bingung dengan definisi Bullying.

Dulu zaman SMA/SMP saya pernah mendengar di radio, dari seseorang yang katanya dari gerakan anti kekerasan apa gitu (lupa namanya), katanya bullying itu relatif.  Kalau seseorang mengatakan sesuatu, yang tanpa sengaja melukai perasaan orang lain, itu bisa dibilang bullying.  Meskipun ga sengaja lho…

Di satu sisi, itu nggak fair sih.  Kalau melakukan bullying ada undang-undangnya, masa kita harus dihukum atas sesuatu yang tidak sengaja kita lakukan?

Tapi baru saja saya membuka Wikipedia, di sana, definisi bullying adalah:

Bullying is an act of repeated aggressive behavior in order to intentionally hurt another person, physically or mentally. Bullying is characterized by an individual behaving in a certain way to gain power over another person (Besag, V. E. (1989) Bullies and Victims in Schools. Milton Keynes, England: Open University Press)

Perhatikan kata kuncinya: intentionally. Disengaja.  Bullying terjadi ketika si pelaku sengaja mengatakan, atau melakukan sesuatu untuk melukai fisik/mental orang lain.

Begitu pula dengan definisi dari KNPA (Komisi Nasional Perlindungan Anak):

Bullying adalah : kekerasan fisik dan psikologis berjangka panjang yang dilakukan seseorang atau kelompok terhadap seseorang yang tidak mampu mempertahankan diri dalam situasi dimana ada hasrat untuk melukai atau menakuti orang atau membuat orang tertekan, trauma / depresi dan tidak berdaya (via Kompasiana)

Definisi di atas juga menyatakan bahwa, bullying terjadi jika ada hasrat untuk melukai orang.  Maka, jika kita mengatakan sesuatu tanpa ada hasrat untuk melukai orang tersebut, itu bukan bullying.

Sayangnya, tidak semua orang setuju hal itu🙂

Ada yang beranggapan bullying itu relatif.  Hanya menilai dari perspektif si korban yang merasa tersinggung, tanpa menilai bahwa si pelaku sebenarnya tidak bermaksud untuk menghina.  Kata-kata yang digunakan si pelaku sebenarnya sama sekali bukan kata-kata hinaan.  Bahkan, dalam kebudayaan sang pelaku, kata-kata tersebut digunakan untuk menunjukkan kasih sayang.

Dan jadilah, si tersangka bullying itu, dihukum atas hal yang tidak sengaja dilakukannya😦

Sumber gambar: whoateallthepies.tv

Tentunya, bila merasa di-bully, sang korban patut mengadu secepatnya kepada “pihak berwajib”.  Sayangnya saat itu sang korban malah mengadu ke media terlebih dahulu (sebenarnya niat melapor atau cuma mau bikin sensasi aja sih?).

Selain itu, bila pihak yang diduga pelaku sudah menyangkal, meluruskan, bahkan sudah menawarkan jalan damai, masa mau tetap berlarut-larut urusannya?

Apalagi setelah si “korban” pun menyatakan kalau dia yakin bahwa si terduga “pelaku” bukan orang yang suka mem-bully

Dan ada kontroversi bahwa sebenarnya si korban-lah yang terlebih dahulu (dengan sengaja) menghina si pelaku.

Dan lagi si pelaku telah memminta maaf bila ada pihak yang (tanpa sengaja) tersinggung atas perkataannya?

Apakah hukuman mahaberat masih harus dijatuhkan??

This #77th wordpress post is dedicated to LFC #7, Luis Suarez.

Hanya untuk meluruskan pandangan orang-orang yang mengatai Luis rasis, padahal tidak mengikuti berita mengenai kasus ini sepenuhnya🙂

Seperti kata Wimar Witoelar, do not criticize what you don’t understand🙂

YNWA

Related Articles:

Statement from Luis Suarez

Liverpool FC Statement

All the reaction from Liverpool and Manchester United after Luis Suarez is banned for racially abusing Patrice Evra

Transcript of Kenny Dalglish’s press conference about Luis Suárez

Hypocrisy: the English disease

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s