Sekali Merdeka (Belum Tentu) Tetap Merdeka

RMS, OPM, GAM.  Tiga organisasi itu, dan mungkin bersama beberapa organisasi lainnya yang saya tidak ketahui muncul karena kekecewaan terhadap NKRI.  Mereka memberontak, ingin melepaskan diri dari Indonesia sebab merasa kehidupan di daerahnya akan lebih baik bila lepas dari Jakarta.

Kadang saya berpikir, ini ada benarnya…

Mungkin ada baiknya jika kita membuat polling di daerah-daerah yang ingin melepaskan diri itu…

Jika Pemilihan Umum digelar hari ini, dan Anda harus memilih apakah daerah Anda akan terus bergabung dengan NKRI atau merdeka, pilih yang mana?

Kalau saya jelas pilih merdeka. Kue Soes Merdeka dari Bandung maksudnya. Hehehe… (bukan iklan :P)

Merdeka Soes. Kali aja penasaran...

Eh, tapi kalau saya benar-benar mengadakan polling itu,  bisa-bisa dipidanakan, mengingat negeri ini sangat sensitif dengan isu-isu yang terkait makar atau mengganggu keutuhan NKRI… *gak jadi bikin polling*

Tapi, Nun Jauh di Inggris sana, ada lho yang membuat polling semacam ini.

Tanggal 13-23 April 2010 yang lalu, John Moores University (JMU)  Journalism menanyakan kepada 542 penduduk Liverpool yang terpilih, “If asked on Election day, would you genuinely vote for a ‘Republic of Liverpool’, independent from the UK?”

Hasilnya, 228 menjawab ya/pro kemerdekaan (42%), sementara 301 (56%) menjawab tidak/pro Inggris.  13 responden (2%) menjawab tidak tahu.

Yang menarik adalah, ketika pertanyaan yang sama diajukan kepada warga Liverpool yang menjadi pendukung Klub Sepakbola Liverpool FC, hasilnya menjadi…

Yap.  7 dari 10 scouser (sebutan untuk warga Liverpool) pendukung Liverpool FC mengatakan setuju untuk memisahkan diri dari Inggris.  Wah wah wah…

Sebagai informasi, polling dilakukan terhadap 105 pendukung Liverpool FC sebelum kick off pertandingan lawan West Ham tanggal 19 April 2010 lalu.

Ya, pendukung Liverpool memang terkenal dengan jargon “we’re not english, we’re scouse”.  Mungkin jika dbandingkan, Liverpool di Inggris ini ibarat Catalan di Spanyol. Menurut artikel di situs JMU Journalism tersebut, kekayaan budaya dan kejayaan di bidang olah raga membuat warga Liverpool lebih bangga atas identitas mereka sebagai scouser dibandingkan identitas sebagai warga Inggris.  Soal budaya, khususnya musik, siapa yang tidak kenal dengan The Beatles? Saking terkenalnya band ini sampai-sampai ada ungkapan bahwa hanya ada dua jenis orang di dunia ini: Orang yang mengenal The Beatles dan orang yang akan mengenal The Beatles.  Soal kejayaan di bidang olah raga, wilayah Merseyside yang memiliki klub sepak bola Liverpool, Tranmere Rovers, Everton, dan mungkin ada klub lainnya merupakan wilayah yang paling banyak meraih gelar juara dibandingkan dengan wilayah lainnya di Inggris.  Liverpool FC sendiri merupakan klub dengan gelar juara Liga Champions terbanyak di Inggris dengan lima trofi kejuaraan antarklub nomor satu Eropa itu.  Hal ini membuat pendukung Liverpool terkenal dengan nyanyian “we won it five times“.  Kekayaan budaya inilah yang menjadikan Liverpool Ibukota Kebudayaan Eropa tahun 2008.

Meski demikian, tidak jelas apakah keinginan sebagian scouser untuk merdeka dari Inggris Raya disebabkan oleh perbuatan semena-mena dari sang pemerintah pusat, seperti yang terjadi di Indonesia.  Yang jelas, ketika ada kekecewaan dan keinginan untuk memisahkan diri, haruskah suatu wilayah tetap bertahan dan menuntut adanya perbaikan? Atau lebih baik mereka mengambil langkah tegas dengan menuntut kemerdekaan, dengan segala risikonya?

Artikel Terkait

JMU Journalism: Scousers split over vote for independence

Kristian Walsh : You English? No, we’re Scouse

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s