Confounder.

Mahasiswa kesehatan masyarakat yang sudah melewati tahun kedua pasti sudah akrab dengan sang “pengganggu” ini.

Seperti namanya, dia cukup mengganggu sih, terutama dalam tugas analisis data.  Apalagi kalau si confounder ini jumlahnya banyak…😀

Saya sendiri sudah lupa, kapan persisnya saya mengenal confounder.  Siapa yang pertama kali memperkenalkannya, saya juga tidak begitu ingat.  Apakah dosen biostatistik, atau dosen epidemiologi, ya kalau tidak salah sih dosen epidemiologi, dalam mata kuliah epid dasar.

Yang menarik, entah mengapa, cara dosen-dosen memperkenalkan confounder nyaris selalu menggunakan contoh yang serupa, yaitu menggunakan trio Rokok – Kanker – Kopi.

Misalnya, ada penelitian yang menunjukkan bahwa minum kopi menyebabkan kanker.  Nah, biasanya orang yang minum kopi juga merupakan perokok, sedangkan penelitian itu, tidak ditanyakan mengenai kebiasaan merokok responden.  Hal ini tentunya dapat menyebabkan kesalahan, apakah kanker itu sebenarnya disebabkan oleh rokok, atau benar-benar disebabkan oleh kopi?

Saking seringnya menjelaskan tentang konfounder dengan perumpamaan di atas, sekali waktu ada seorang teman yang ditanya oleh dosen, “tahu nggak apa itu confounder?” Dia jawab, “Tahu bu. Itu kan, kopi… :mrgreen:”…

Tapi tadi siang, di kelas Analisis Data Penelitian Eksperimen, yang diajar oleh dosen yang menurut saya keren sekali karena lulusan UCLA dan bisa membuat software, ada satu perumpamaan baru tentang confounder yang menurut saya bisa lebih mudah dimengerti dan tidak terlalu meng-awang-awang seperti contoh kanker tadi.

Misalnya, saya akan melakukan uji coba obat pusing.  Uji coba tersebut saya lakukan terhadap mahasiswa, tentunya yang sedang pusing:mrgreen: .  Nah, yang saya nggak tahu, di antara mahasiswa tersebut ada yang sudah makan, dan ada yang belum makan.  Mungkin saja pada mahasiswa yang sudah makan, obat tersebut manjur menyembuhkan sakit kepalanya.  Namun pada mahasiswa yang belum makan, setelah minum obat pun, dia tetap saja pusing, karena pusingnya disebabkan karena belum makan…

Jadi, menurut saya, dalam ilustrasi tersebut, obat pusing adalah exposure, sembuh atau tidak dari pusing adalah outcome, sedangkan confounder-nya adalah sudah makan atau belum.  Hehe… CMIIW😀

Udah dulu ah postingan kali ini.  Sebenarnya saya cuma ingin membiasakan posting blog kembali saja, mengingat sudah cukup lama si Coldwind ini tidak terurus…😦.  Ya, salahkan laporan magang, skripsi, tugas, dan laporan-laporan lainnya:mrgreen: .

Saya hanya berharap agar semua lancar. Amien…😀

2 Comments

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s