Postingan tentang Kereta *sambil bersihin debu*

Setelah lama tidak menyentuh blog ini, akhirnya sekarang sempat posting juga… *bukapintu* *bawasapu* *bersihinlantai* *hatsyi* (–‘)

Tahukah Anda bahwa KRL Ekonomi disubsidi oleh pemerintah?

Saya baru tahu lho. Baru tahu setelah membaca spanduk di Stasiun Pondok Cina ini…

KRL Ekonomi Disubsidi, Diperuktukkan bagi RAKYAT KURANG MAMPU🙂

Dan, terima kasih kepada pengguna KRL Commuter Line yang tak disubsidi…

Selain sebagai sarana sosialisasi, pesan yang saya tangkap dari spanduk ini adalah, PT KAI berusaha mengajak masyarakat yang merasa ‘mampu’ untuk naik KRL Commuter Line, karena tidak disubsidi. Dan jika mereka naik Commuter Line, maka mereka telah menyumbangkan sekian rupiah untuk pembangunan dan kemajuan bangsa…

Namun, bagi saya spanduk ini sama sekali tidak berpengaruh terhadap keputusan saya dalam memilih kereta yang mana yang akan saya tumpangi. Mengapa?

Meski tidak yakin apakah saya tergolong rakyat tidak mampu atau bukan, saya cukup sering naik kereta ekonomi. Alasannya, bukan hanya karena harganya yang lebih murah, tapi juga karena seringkali kereta ekonomilah yang berangkat duluan🙂.

Kadang saya merasa kualitas kereta ekonomi dan ekonomi AC (atau yang sekarang disebut dengan Commuter Line) tidak jauh beda. Baik kereta AC maupun AG (Angin Gelebug) sama-sama dinginnya. Dua-duanya ada kipas anginnya. Seringkali AC pada kereta Commuter Line juga tidak hidup. Kalau penuh, ya, suhunya sama-sama panas juga🙂.

Oh iya, mungkin satu hal yang membedakan KRL Ekonomi dan Ekonomi AC adalah: Jumlah kejadian kecopetan yang dialami penumpangnya. Selama saya menjadi pengguna KRL Jabodetabek, belum pernah tuh ada yang kecopetan di kereta Ekonomi AC. Kalau di  KRL Ekonomi sih, sering banget. Modus sang pelaku biasanya menyilet tas/pakaian korban atau menjambret. Biasanya yang menjadi korban adalah penumpang yang berposisi berdiri/duduk dekat pintu dan sebagian besar berjenis kelamin wanita.

Mungkin hal itu pulalah yang membuat gerbong khusus wanita perlu dibuat.

Jadi, inti dari cuap-cuap saya kali ini adalah…

Bukan soal subsidi atau non-subsidi. Bukan soal status mampu atau kurang mampu yang menentukan seseorang untuk memilih jenis KRL yang akan ditumpanginya, melainkan kualitas.  Kalau kualitas KRL Ekonomi dengan Commuter Line tidak jauh beda, ya mendingan naik ekonomi lah… Rugi beli karcis AC.  Hehe.

Sekian dulu postingan kali ini. Maaf bila agak aneh. Maklum, udah lama ga posting blog. Ini juga nulisnya sambil bersihin debu *hatsyi*.

Dan, mengutip kata-kata Maissy: Sampai Jumpaa…😉

2 Comments

  1. Hahaha entah kenapa saya ketawa.😆
    Saya baru tahu hal ini. Dan…. tampaknya saya tertawa karena ini artinya orang kaya ga boleh naik KRL dong.:mrgreen: Spanduk itu secara gak langsung mengatakan bahwa “orang yang berekonomi baik naik kendaraan lain saja”.😆

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s