Wakil Rakyat Gedungnya Tak Merakyat ?

Beberapa hari belakangan ini, berita-berita berbagai media di Indonesia banyak membahas isu-isu terkini yang ada hubungannya dengan kata “Captain”. Sebut saja kisah seputar Captain Vino, sang pilot Lion Air yang berani mengusir seorang anggota dewan dari pesawat. Ada juga kabar dari Inggris, mengenai jabatan Kapten timnas Inggris yang kembali diberikan kepada John Terry, pemain yang sebelumnya dianggap tidak layak memimpin “The Three Lions” akibat sebuah skandal pribadi. Akan tetapi, segala isu yang ramai dibicarakan tersebut sesungguhnya hanyalah pengalihan dari isu sebenarnya… yaitu… pernikahan KD dan Raul!

Hehehe… nggak ding. Maksudnya ini semua hanyalah pengalihan dari isu yang lebih besar, yaitu pembangunan gedung baru DPR.

Desain Gedung Baru DPR RI

Sebenarnya, penting nggak sih pembangunan gedung baru ini? Dalam salah satu edisi Surat Kabar Kompas, terdapat sebuah artikel yang menggambarkan bagaimana sempit dan sumpeknya suasana dalam ruangan staf khusus para anggota DPR. Staf yang menghuni ruang tersebut juga masih harus berbagi tempat dengan berbagai perabotan, berkas-berkas, serta buku-buku yang menumpuk. Oleh karena itu, mereka menganggap pembangunan gedung baru itu perlu. Mereka juga menyayangkan adanya pihak-pihak yang kontra akan pembangunan gedung tersebut.

Dari pernyataan di atas, jelas bahwa gedung baru perlu dibuat dikarenakan kapasitas gedung DPR yang ada sekarang tidak lagi mencukupi bagi para staf yang bekerja di sana. Namun, apakah itu berarti gedung baru DPR harus memiliki fasilitas mewah seperti kolam renang dan spa? Apakah sah-sah saja jika pembangunan gedung untuk para ‘wakil rakyat’ ini menelan biaya hingga trilyunan rupiah?

Menurut Bara Hasibuan, meski biaya pembangunan sudah dipotong menjadi Rp 1,1 Trilyun, dari sebelumnya Rp 1,7 Trilyun, tetap saja masih terasa besar. Selain itu, masih menurut Bara, desain gedung baru DPR juga terlalu mewah, sehingga terkesan intimidatif terhadap rakyat. Dengan desain mewah itu, rakyat yang akan menemui wakilnya di gedung DPR akan merasa minder, merasa tidak nyaman… Saya sangat setuju dengan pendapat tersebut, mengingat saya juga pernah merasakan hal yang sama.

Indofood Tower

Jadi sekitar bulan Februari lalu, saya mengikuti sebuah seminar mengenai pangan di Gedung Indofood, Sudirman, Jakarta. Gedung Indofood, menurut saya yang kampungan ini, merupakan sebuah gedung yang tinggi, mewah, dengan pengamanan yang sangat ketat. Ini membuat saya terlihat seperti ‘orang gunung turun ke kota’. Super canggung. Mungkin nggak ada bedanya sama Si Kabayan disuruh menginap di hotel mewah. Hehehe…

Yah, mudah-mudahan saja jika gedung DPR tetap keukeuh mau dibuat, mudah-mudahan desainnya diperbaharui, menjadi lebih efektif, efisien, dan merakyat. Jika DPR kesulitan menemukan desain yang lebih efisien, mungkin mereka bisa meminta bantuan Paman Gober. Lho, kok Paman Gober sih?

Gudang Uang Gober

Karena tidak ada lagi gedung yang lebih efisien dari “Gudang Uang Paman Gober”. Gedung berbentuk kubus, dengan hanya satu pintu masuk dan delapan  jendela. Tapi tentu saja gedung baru DPR tidak perlu dipasangi tulisan “ENYAH” seperti Gudang Uang Gober, ya. Kecuali “ENYAH KORUPTOR” mungkin🙂

4 Comments

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s