Potret Wanita Indonesia: Jangankan Memahami Bahasa Alay, Membaca Saja Sulit!

Ada satu hal yang menganggu gue ketika gue ngeliat alay-alay yang ada di Facebook atau Twitter. Yang pertama, jelas cara penggunaan bahasanya yang sangat memusingkan, seperti misalnya “cEumungudh yAch Qaqa!!!!” atau “h41.. l3h n4L?” (http://radityadika.blogdetik.com/2010/12/17/ketika-alay-dahulu/)

Itulah kutipan dari tulisan Raditya Dika di situs blogdetik. Kutipan tersebut menjelaskan bahwa di zaman kecanggihan teknologi dan informasi sekarang ini, manusia semakin pandai untuk berinovasi dengan berbagai hal, salah satunya melalui penggunaan bahasa alay, yaitu dengan menggabungkan angka dengan huruf, menggunakan huruf kapital tidak sesuai dengan tempatnya, serta menciptakan istilah-istilah baru.

Anehnya, meskipun bahasa ini sulit untuk dipahami, namun masih banyak orang, terutama para remaja, yang mempergunakannya. Ironisnya, di tengah menjamurnya bahasa alay yang sangat kompleks ini, masih banyak orang di Indonesia yang bahkan sama sekali tidak mempunyai kemampuan untuk memahami tulisan, alias buta huruf.

Human Development Report tahun 2009 menyatakan bahwa angka buta huruf di Indonesia mencapai 8%, atau lebih tinggi dibandingkan dengan beberapa negara ASEAN lainnya, seperti Filipina (6,6%), Thailand (5,75%), dan Singapura (5,55%).

Selain itu, 7 dari 10 penduduk Indonesia yang buta huruf merupakan perempuan. Hal tersebut menunjukkan masih rendahnya akses wanita Indonesia terhadap pendidikan, mengingat angka buta huruf merupakan salah satu indikator untuk mengukur tinggi-rendahnya pendidikan di suatu negara.

Gender

Apa sebenarnya hal yang menyebabkan tidak adanya kesempatan yang sama antara perempuan dan laki-laki di Indonesia dalam memperoleh pendidikan? Masih adanya pembedaan tentang sifat, peran, posisi perempuan dan laki-laki, atau yang biasa disebut dengan gender, disinyalir merupakan salah satu faktor penyebabnya. Tidak seperti jenis kelamin yang merupakan perbedaan yang bersifat biologis, gender dibentuk oleh masyarakat dan dipengaruhi oleh sistem kepercayaan, penafsiran agama, budaya, politik, sistem pendidikan dan ekonomi (Missiyah, 2010).

Adanya gender ini seringkali merugikan, khususnya bagi kaum wanita yang dipandang lebih rendah dari laki-laki, sehingga menyebabkan adanya pandangan bahwa wanita layak mendapatkan diskriminasi dari laki-laki. Selain itu, wanita juga menjadi kaum yang termarginalisasi sehingga tak dapat mengajukan pendapat untuk membuat keputusan yang menguntungkan dirinya. Jangankan di tingkat nasional, di rapat tingkat RT saja wanita jarang dilibatkan. Adanya budaya patriarki juga menyebabkan keputusan-keputusan penting di rumah tangga hanya ditentukan oleh laki-laki saja, seperti keputusan mengenai perawatan dan pertolongan persalinan, jumlah anak yang ingin dilahirkan, dan penggunaan KB, tanpa memperhatikan kepentingan sang Ibu.

Lantas, apa saja dampak dari rendahnya angka melek huruf di kalangan wanita ini?

Tingginya Angka kematian Ibu di Indonesia

Pendidikan ibu merupakan salah satu faktor yang mempengaruhi angka kematian ibu. Laporan MDGs tahun 2010 menunjukkan bahwa di negara kawasan Sub-Sahara Afrika, angka melahirkan di usia remaja tertinggi dan tingkat penggunaan kontrasepsi terendah berada pada kelompok pendidikan rendah, sedangkan tingginya angka melahirkan di usia remaja dan rendahnya tingkat penggunaan kontrasepsi merupakan faktor risiko yang menyebabkan tingginya angka kematian ibu di suatu wilayah (UN, 2010). Tidak heran bila angka kematian ibu di Indonesia saat ini termasuk salah satu yang paling tinggi di Asia. Menurut Komisi Ekonomi dan Sosial PBB untuk Asia Pasifik (UNESCAP), Program Pembangunan PBB (UNDP), UNFPA, dan WHO, AKI Indonesia naik dari 307 menjadi 420 per 100.000 kelahiran hidup pada tahun 2009 lalu (Tempo, 2010). Bandingkan dengan negara Asia Tenggara lainnya, Thailand, yang telah berhasil menurunkan AKI dari 400 per 100.000 kelahiran hidup menjadi 80 per 100.000 kelahiran hidup dalam kurun waktu 24 tahun.

Rendahnya Kesempatan Kerja & Kekerasan Terhadap Perempuan

Pendidikan yang rendah tentu membuat kaum wanita terpaksa untuk bekerja di sekor informal, salah satunya adalah menjadi pekerja rumah tangga (PRT). Padahal, pekerja sektor informal tidak dinaungi oleh undang-undang yang mengatur tentang gaji dan perlindungan terhadap pekerja tersebut. Akibatnya, banyak wanita yang bekerja di sektor informal sering mengalami tindak kekerasan dari majikannya. Kasus Sumiati dan TKW-TKW lainnya yang bekerja di Arab Saudi dan Malaysia adalah contoh nyata tingginya angka kekerasan terhadap perempuan yang bekerja di sektor informal.

Rendahnya Peringkat Human Development Index (HDI), Gender Development Index (GDI) dan Gender Empowerment Rank Indonesia


Menempati peringkat HDI ke-111 Dari 194 negara yang disurvei, peringkat GDI dan Gender Empowerment Rank Indonesia masing-masing berada pada angka 93 dan 96, peringkat yang tergolong paling rendah jika dibandingkan dengan negara-negara ASEAN lainnya. Ini menunjukkan bahwa Indonesia masih tertinggal dari negara-negara tetangga dalam hal pemberdayaan perempuan.

Tingginya budaya patriarki di Indonesia menyebabkan pemberdayaan perempuan tidak menjadi hal yang mudah dilakukan. Tingginya peran laki-laki dalam mengambil keputusan juga seringkali membuat kaum wanita menjadi tidak percaya diri akan kemampuannya. Oleh karena itu, pemerintah harus turut melibatkan kaum laki-laki dalam program pemberdayaan perempuan, agar mereka lebih mengerti akan peran, fungsi, dan sifat wanita yang sesungguhnya, serta mengikutsertakan wanita dalam pengambilan keputusan sehingga akses terhadap pendidikan, pekerjaan, dan kehidupan yang lebih layak terbuka bagi kaum wanita di negeri ini.

2 Comments

  1. ….di saat banyak penduduk di Indonesia yang masih buta huruf, banyak sekali orang2 yang menggunakan bahasa alay dalam penggunaan sehari-hari..😦
    Pdahal, tulisan alay itu susaaaaaah banget dibaca, bikin jengkel.😡

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s