Laser Incident: The Truth (Baca dan Salahkan Pihak yang Tepat)

  1. Ada nih info dr org BTN, tapi ini belum bisa diverifikasi loh karena beberapa sumber infonya beda-beda.  Ini seputar insiden laser | via @arma1da
  2. Waktu Markus protes di babak ke-2 tentang laser itu seharusnya kapten tim Firman Utina yang meminta menghentikan laga setelahrundingan ama Riedl
  3. Nah beberapa pengurus PSSI yang di pinggir lapangan tiba-tiba meminta Markus dll keluar lapangan tanpa koordinasi dengan Riedl.  Ini bikin bingung pemain.
  4. Markus dan beberapa pemain bingung nih antara nurutin Riedl atau pejabat-pejabat PSSI itu.  Akhirnya mayoritas pemain lebih nurut ke pengurus PSSI.
  5. Padahal waktu itu belum ada perintah dari Riedl ke Firman Utina untuk mengentikan permainan.  Riedl sempat berbisik ke beberapa pejabat PSSI untuk protes.
  6. Di ruang ganti Riedl marah-marah ke beberapa pejabat PSSI tadi karena wewenang di lapangan ituada di dia bukan di pejabat PSSI.
  7. Untuk Riedl, yang jadi masalah bukan lasernya, karena dia juga marah karena banyak laser, tapi proses berhentinya game yang dia merasa dilangkahi wewenangnya.
  8. Begitulah soal insiden laser di bukit jalil via @arma1da

Sumber: @ndorokakung

Entah kenapa saya merasa kalau yang dilaser (jiah dilaser) itu bukan Cuma Markus aja.  Pemain Malaysia juga… pas babak satu. Ada yang memperhatikan? CMIIW.

 

Riedl vs Darussalam, Siapa yang Harus Keluar?

Habis itu, ndoro kakung juga ngetweet kayak gini:

“Di timnas itu ada pelatih (Riedl) dan manajer tim (Andi darusalam).  Bisa dibayangkan kalau keduanya tak kompak.”

Ini mengingatkan saya pada peristiwa dipecatnya Rafa Benitez sebagai pelatih Liverpool akhir musim lalu, setelah tak lagi akur dengan pemilik klub saat itu, Tom Hicks dan george Gillet.   Yap, memang sih, dari 3 pilar utama sebuah tim menurut Bill Shankly (Pemain, Pelatih, Suporter), manajemen tidak termasuk (kata Shankly: manajemen hanya ada untuk “menandatangani cek”).  Meski pelatih memiliki wewenang penuh untuk mengatur tim, di luar dan di dalam lapangan, tapi manajemen juga mempunyai hak untuk “ngatur-ngatur” pelatih.  Mengapa? Yah, siapa lagi yang mempekerjakan pelatih tersebut kalau bukan manajemen tim.  Mereka bebas, lah, memecat pelatih kalau si pelatih dianggap tidak becus atau sudah berlawanan visinya dengan visi manajemen tim.  Konflik pelatih-manajemen/pemilik klub tidak bisa dibiarkan karena akan mempengaruhi stabilitas dan situasi internal tim.  Harus ada salah satu di antara mereka yang “keluar”😐

Setahu saya, dari konflik pemilik klub-pelatih yang selama ini terjadi, yang harus mengalah adalah pelatih.  Contoh nyata adalah Rafa yang bertentangan dengan Hicks-Gillet sehingga dipecat dari Liverpool, dan belakangan ini juga dipecat oleh Inter Milan setelah bertentangan pendapat dengan owner klub, Massimo Moratti.  Di awal musim ini, mantan pelatih Aston Villa, Martin O’Neill juga mundur dari jabatannya setelah merasa tidak lagi satu visi dengan pemilik klub, randy Lerner, yang mengedepankan kebijakan menjual pemain bintang untuk mempertahankan stabilitas keuangan klub, dan bukannya berfokus pada perbaikan kualitas dan prestasi tim.  Chelsea juga beberapa waktu lalu memecat asisten pelatihnya (saya lupa namanya), tanpa alasan yang jelas, hanya karena adanya perbedaan visi dengan manajemen/pemilik klub.  Padahal Carlo Ancelotti, pelatih chelsea mengatakan bahwa sang asisten berperan besar dalam membantunya beradaptasi sebagai pelatih klub tersebut pada musim pertamanya di Stamford Bridge.

Lantas bagaimana dengan nasib Riedl?  Siapa yang harus mengalah, Riedl atau darusalam? Mengingat atasan Darusalam, yang namanya Nurdin, sussssaaaaaahh banget buat disuruh turun, meskipun sudah diteriaki berkali-kali dan sudah dipasangi spanduk juga, saya rasa anak buahnya bakal lebih susah lagi untuk disuruh mundur.  Jadi, mungkin sekali bila Indonesia tidak mampu meraih juara pada piala AFF tahun ini, Riedl bisa dipecat oleh PSSI.  Sayang sekali mengingat dari beberapa pelatih terakhir, hanya Riedl yang sangat berani menerapkan pola disiplin pada para pemainnya, sampai berani tidak memasukkan nama Boaz Solossa ke Timnas, akibat tindakan indisipliner pemain Persipura itu yang tak kunjung mematuhi panggilan untuk bergabung dengan Timnas.

 

Apapun yang terjadi, saya tetap dukung Timnas Indonesia.  Menang syukur, kalah salahin PSSI udah biasa kaliiii… udah dari zaman kapan saya dukung Timnas, kalah lagi-kalah lagi… tapi nggak bikin saya kapok karena ini negara saya.  Sebut saya suporter rumahan, tapi saya suporter yang loyal (meskipun nggak die hard-die hard banget) dan bukan glory hunter.

Indonesia will never walk alone😀

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s