Up, Sebuah Gambaran Fenomena Sosial

Film UP

Film Up yang diproduksi Disney dan Pixar ini mengisahkan tentang seorang anak bernama Carl yang mengidolakan petualang bernama Charles Muntz.  Sayangnya, suatu ketika kehebatan Muntz dipertanyakan setelah para ahli meragukan temuan Muntz berupa kerangka dari seekor burung yang hidup di Amerika Selatan.  Para ahli menganggap bahwa kerangka itu hanya merupakan rekayasa Muntz.  Muntz pun kembali ke Amerika Selatan dan bertekad untuk membuktikan kehebatannya dengan membawa makhluk temuannya dalam bentuk aslinya.

Kembali ke Carl, bocah ini secara tidak sengaja bertemu dengan Ellie, anak perempuan yang juga mengidolakan Muntz dan bercita-cita untuk bertualang ke tempat yang Muntz jelajahi.  Singkat cerita, Carl dan Ellie akhirnya menikah saat mereka dewasa.  Meski mereka telah membangun sebuah rumah untuk menetap, namun mereka tidak pernah lupa akan impian terbesar mereka untuk menjelajah.  Mereka bahkan berencana untuk memiliki rumah di Paradise Falls, sebuah tempat di Amerika Selatan.

Sebenarnya Carl dan Ellie telah menabung untuk mewujudkan impian mereka memiliki rumah di Paradise Falls, namun karena berbagai alasan, uang tabungan tersebut selalu terpakai.  Hal itu terus terjadi hingga usia mereka makin bertambah tua.  Pada saat itu, sebenarnya Carl sempat membeli sebuah tiket perjalanan ke Amerika Selatan.  Sayangnya, rencana itu tak pernah terlaksana karena kesehatan Ellie yang berangsur-angsur menurun, hingga kemudian Ellie pun meninggal.

Carl & Ellie

Carl & Ellie

Sepeninggal Ellie, kehidupan Carl menjadi suram dan tanpa motivasi, hingga pada suatu ketika, Carl tidak sengaja melukai seorang pekerja konstruksi.  Ini membuat pengadilan setempat memaksa Carl untuk meninggalkan rumahnya dan pergi ke panti lansia.  Ingatan Carl akan keinginannya dan istrinya untuk bertualang menyebabkannya tak rela meninggalkan rumahnya.

Carl pun mencari cara untuk dapat menghindar dari keharusan untuk pergi ke panti lansia dengan cara melarikan diri tanpa harus meninggalkan rumah tercintanya.  Carl yang merupakan seorang penjaja balon gas pun akhirnya mendapat ide dari balon dagangannya.  Carl akhirnya memodifikasi rumahnya menjadi “rumah terbang” dengan menggunakan balon-balon gas dagangannya untuk membuatnya melayang.  Carl dan rumahnya berangkat tepat saat pihak dari panti lansia bermaksud menjemputnya.

Dalam perjalanan, secara tidak sengaja seorang anggota pramuka bernama Russell yang ingin mendapatkan Lencana “Menolong Lansia” bergabung dengan petualangan Carl.  Ketika mencapai Amerika Selatan, mereka bertemu dengan Kevin, si burung, dan Dug, salah satu anjing milik Charles Muntz yang sebenarnya ditugaskan untuk memburu Kevin.

Dug, Kevin, Russel, dan Carl

Dug, Kevin, Russel, dan Carl

Dug dan rekan anjingnya akhirnya membawa Carl dan Russell ke tempat Muntz.  Di sana, Carl akhirnya mengetahui bahwa Muntz memiliki tujuan yang tak baik, yaitu untuk menangkap Kevin.  Hal ini membuat Carl dan Russell, yang pada awalnya tidak begitu cocok, bekerjasama untuk menyelamatkan Kevin dari ancaman Muntz.

Muatan Sosial

Film Up yang dirilis tahun 2009 ini memang sarat dengan berbagai muatan sosial sejak awal hingga akhir.  Adegan-adegan awal dari film ini menggambarkan Carl yang mengidolakan Charles Muntz dan mengekspresikannya dengan cara meniru penampilan Muntz, yaitu dengan mengenakan helm dan kacamata pilot.  Dalam ilmu sosial, ini dikenal dengan proses identifikasi, yaitu kecenderungan dalam diri seseorang untuk menjadi sama dengan orang lain, yaitu orang yang ia idolakan.  Proses identifikasi ini juga banyak ditemui dalam kehidupan yang sebenarnya.  Masih ingat dengan Adam Jackson?  Penggemar Michael Jackson asal Indonesia ini mendadak menjadi sering muncul di televisi tahun lalu ketika Michael Jackson meninggal.  Adam melakukan proses identifikasi dengan berpakaian dan meniru cara menari Michael Jackson.

Selain proses identifikasi, film up juga menggambarkan proses simpati, yaitu, suatu proses di mana seseorang tertarik dengan orang lain.  Biasanya proses ini didorong oleh keinginan untuk memahami orang lain atau bekerja sama dengannya.  Proses simpati ini terjadi antara Carl dan Ellie yang sama-sama mengidolakan Charles Muntz dan juga sama-sama ingin bertualang.  Kesamaan pendapat inilah yang mendorong adanya kesamaan pengertian antara kedua belah pihak dan memungkinkan proses simpati terjadi.  Selain itu, proses simpati juga terjadi antara Carl dan Russell yang, pada akhirnya, sama-sama bertujuan untuk membebaskan Kevin dari cengkeraman Muntz.  Dalam hal ini, proses simpati terjadi relatif lambat, karena sebelumnya keinginan untuk menyelamatkan Kevin hanya berada pada satu pihak, yaitu Russell.  Namun, apabila proses simpati terjadi, maka pengaruhnya akan lebih lama, karena adanya saling pengertian di antara kedua belah pihak biasanya akan mendasari hubungan persahabatan.  Inilah yang terlihat antara Carl dan Russell yang meski tidak begitu akur pada awal film, namun akhirnya menjadi sahabat baik pada akhir film.

Kevin, Russel, Dug dan Carl

Kevin, Russel, Dug dan Carl

Proses simpati juga dapat berlangsung lebih kuat dibandingkan dengan proses imitasi.  Dalam film Up, misalnya, Carl yang sejak kecil mengidolakan Muntz menjadi antipati dengan idolanya tersebut.  Perbedaan pandangan antara Muntz yang menghalalkan segala cara untuk mendapatkan Kevin, si Burung, dengan Carl yang tidak setuju akan kekerasan yang dilakukan Muntz dalam usahanya untuk menangkap Kevin, merupakan sesuatu yang mendasari mengapa tidak terjadi proses simpati antara Carl dan Muntz.

Keinginan Carl dan Ellie untuk bertempat tinggal di Paradise Falls yang selalu tertunda juga merupakan fenomena sosial lain yang tergambar dalam film ini.  Dalam film ini, uang tabungan yang seharusnya digunakan untuk mewujudkan impian mereka selalu terpakai untuk berbagai keperluan yang tak terduga, seperti untuk memperbaiki mobil atau biaya perawatan kecelakaan.

Adegan ini dapat kita pandang melalui dua sisi.  Pertama, tampaknya negara tempat Carl dan Ellie bermukim belum memiliki sistem jaminan sosial – seperti yang akan dicanangkan oleh Indonesia – karena apabila negara tersebut memiliki jaminan sosial bagi warganya, biaya kecelakaan bagi Carl tentu akan ditanggung oleh negara, sehingga tidak perlu mengambil uang dari tabungan Carl dan Ellie.  Salah satu contoh negara yang teleh menerapkan sistem jaminan sosial bagi warganya adalah Inggris.  Di negara tersebut, pemerintah melalui National Health Services (NHS) akan menanggung seluruh biaya kesehatan maupun pengobatan yang dilakukan oleh warganya.  Untungnya bagi Carl, yang hanya seorang penjual balon, ia dan Ellie telah memiliki tabungan yang dapat digunakan untuk biaya perawatannya di rumah sakit.  Jika kasus ini terjadi pada penjual balon di Indonesia, sebuah kecelakaan saja dapat menguras habis harta mereka karena digunakan untuk biaya berobat ke rumah sakit.

Kedua, untuk mewujudkan impian mereka menuju Paradise Falls, Carl dan Ellie sebetulnya tidak perlu menunggu hingga uang tabungan mereka cukup untuk pergi ke tempat tersebut.  Buktinya, dengan hanya bermodalkan balon-balon yang biasa ia jual, Carl mampu menciptakan kendaraan berupa rumah terbang dan pergi menuju Amerika Selatan.  Di dunia nyata, hal ini menggambarkan sifat manusia yang cenderung menunda-nunda untuk mewujudkan atau melakukan sesuatu.  Misalnya, seseorang biasanya menunggu hingga mencapai gelar sarjana untuk dapat mencapai kesuksesan.  Padahal, orang yang buta huruf dan tidak berpendidikan saja dapat menjadi pengusaha mebel yang sukses.  Contoh lainnya, seorang nenek dari desa terpencil saja mampu membangun saluran air yang mengalirkan mata air pegunungan ke desanya.  Nenek tersebut akhirnya mendapatkan penghargaan kalpataru.  Hikmah yang dapat diambil dari kisah ini yaitu, tidak perlu menunggu hingga kita lulus S-1 atau hingga kita mencapai tingkatan tertentu untuk dapat berkontribusi bagi masyarakat atau wilayah di sekitar kita.  Kita dapat mewujudkannya saat ini dengan segenap kemampuan dan kemauan yang kita miliki.

Satu fenomena sosial lainnya yang menarik di film ini yaitu mengenai perbudakan.  Dalam film ini, perbudakan tergambar melalui anjing-anjing yang “dipekerjakan” oleh Charles Muntz.  Anjing-anjing ini melakukan segala hal yang diperintahkan oleh Muntz, tanpa berpikir benar atau salahnya perbuatan itu.  Di dunia yang sebenarnya, perbudakan, yang katanya telah dihapuskan, nyatanya masih ada.  Hal ini terjadi pada para pekerja kantor yang beraktivitas sejak pagi hingga sore.  Mereka hanya bekerja menurut perintah atasannya, dan mereka mengikuti semua perintah atasannya tanpa berpikir akan manfaat dari pekerjaan itu.  Hal tersebut dapat mematikan kreativitas mereka dan membuat mereka menjadi “manusia robot”.  Bahkan, transfer aliran dana Bank Century yang menggegerkan pun tentunya dilakukan oleh para pekerja yang hanya menjalankan perintah dari atasannya.  Semoga nama yang disebutkan oleh Pansus Century merupakan nama orang yang benar-benar bertanggung jawab, bukan nama-nama pekerja yang hanya melaksanakan instruksi dari bosnya.

Selain muatan sosial di atas, Film Up juga memiliki pesan untuk konservasi dan kelestarian makhluk hidup.  Hal tersebut terlihat dari usaha Carl dan Russel untuk menyelamatkan Kevin dari Muntz, sang pemburu, dan mengembalikan Kevin ke habitatnya agar ia bisa membesarkan anak-anaknya dan mempertahankan kelangsungan hidup spesienya yang sudah langka.

Maka, meski Up merupakan film animasi yang identik dengan anak-anak, sesungguhnya film ini bukan hanya tontonan untuk menghibur anak-anak semata.  Film ini sarat dengan berbagai muatan sosial yang patut direnungkan oleh orang dewasa, mulai dari proses interaksi hingga pesan konservasi.  Up menggambarkan berbagai fenomena sosial yang terjadi di masa kini melalui cara yang tidak biasa.

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s