Process-Oriented

Apa makna kata-kata mutiara bagi Anda?  Kalau buat saya, kata-kata mutiara itu adalah sesuatu yang saya tuliskan sebagai motto hidup dalam biodata saya, atau sebagai kalimat penyemangat saat saya sedang merasa galau.  Ya, kadang melalui kata-kata mutiara, kita bisa melakukan pembenaran atas apa yang kita lakukan, apa yang kita anggap benar namun dianggap salah oleh orang lain.

Nah, kebetulan hari Minggu kemarin saya membaca sebuah artikel di Kompas Minggu mengenai makna dari dua kalimat/kata-kata mutiara, yaitu:

I can accept failure but I can not accept not trying

dan

The most important thing is not the destination but the journey

Belum baca artikelnya? Klik di sini aja untuk baca… Tapi harus login dulu, jadi kalau belum punya account Kompas Cetak, ya daftar dulu…🙂

Saya dapat menerima kegagalan, tapi tak bisa menerima tak mencoba.  Ya, kita sih bisa-bisa aja berbicara seperti itu kepada diri kita bilamana menghadapi kegagalan, misalnya gagal lulus di suatu mata kuliah.  tapi, apakah dosen kita dapat berkata seperti itu juga?  Apa dia dapat memaklumi kalau kita mendapat nilai E dengan alasan sebenarnya kita sudah mencoba?

Yang paling penting bukan tujuannya, tapi perjalanan menempuh tujuan.  Kalimat ini mengingatkan saya ke masa SMA ketika sedang stres-stresnya menghadapi UN.  Saat itu, saat upacara bendera, Pak Endang, pembina upacara yang merupakan guru agama saya berpesan

Dalam sebuah mata pelajaran, hendaknya kalian jangan berorientasi pada nilai, tetapi pada kompetensi.  Jika berorientasi pada nilai, kalian akan cenderung menempuh segala cara untuk memperoleh nilai bagus, termasuk dengan mencontek.

Tentu saya setuju dengan perkataan Pak Guru.  Tapi bagaimana kita bisa tidak berorientasi terhadap nilai bila yang menentukan kelulusan kita adalah nilai?  Dan lagi, apalagi yang menggambarkan kompetensi kita kalau bukan nilai?  Proses-kah?

Proses belajar-mengajar mengingatkan kita bahwa seberapa burukpun nilai akhir kita, kita telah mencoba mati-matian untuk bisa.  Ya, masalah aa yang mencoba sepenuh hati atau setengah-setengah, tentu guru kita yang tahu.  Namun, apakah hingga kini ada tolok ukur yang dapat digunakan untuk menilai proses, dan bukanya hasil akhir?  Wong Ujian Nasional saja yang digelar selama tiga hari dinilai sama sekali menafikkan proses belajar-mengajar selama tiga tahun… Yah, selama sistem seperti UN ini masih dijalankan, siswa-siswa ita akan terus berorientasi terhadap nilai, dan bukan proses, yang membuat mereka nekat melakukan apa saja untuk lulus.  Inikah cikal-bakal lahirnya generasi koruptor baru Indonesia? Mudah-mudahan sih enggak. Hiii… amit-amit…

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s