Aku, TV, dan Liverpool

Sebuah TV mungkin benda yang biasa-biasa saja di zaman modern ini, apalagi TV CRT.  Di tengah serbuan TV Plasma dan LCD dengan harga terjangkau, TV CRT seakan menjadi barang kuno.  Namun, sebagaimana halnya dengan manusia, jika Anda pernah menghabiskan waktu bertahun-tahun dengan sebuah TV, akankah TV itu masih menjadi biasa-biasa saja buat Anda?

Wah, nggak sadar ya, sejak dua bulan lalu tulisan saya hampir selalu ada kaitannya dengan sepak bola dan Liverpool.  Tampaknya euforia Piala Dunia mengingatkan akan kebiasaan saya dulu yang hampir tak pernah melewatkan satu pun pertandingan siaran langsung Liverpool, baik di Liga primer maupun di Liga Champions.  Sayang sekali, Timnas Inggris yang dipimpin oleh Kapten Liverpool, Steven Gerrard, harus pulang lebih awal dari Afsel 2010.

Nah, berbicara tentang Liverpool dan pertandingannya membuat saya ingin berbagi cerita tentang sebuah pesawat televisi.  Sekilas, televisi CRT (CRT maksudnya Cathode Ray Tube, ya, bukan Cristiano Ronaldo nomer Tujuh :P) berukuran 14 inchi ini terlihat biasa-biasa saja.  Tapi itu bukan berarti TV ini bermakna luar biasa bagi saya, lho… hehehe… (trus ngapain diomongin, dit?)

TV LG 14''

TV LG 14 Inci warna abu-abu. Di sebelahnya terdapat sebuah boneka bebek "___"

Tadinya, TV ini bertugas sebagai sumber hiburan dan informasi di rumah saya, tepatnya di lantai dua.  Sempat dibawa oleh kakak saya yang kuliah di Bandung, TV ini kembali lagi ke rumah tercinta setelah kakak saya lulus, tentunya.  Nah, setelah TV yang ada di lantai-1 rusak, TV bermerek LG ini pun dipindahtugaskan.  Tugasnya baru berakhir ketika TV berwarna abu-abu ini gantian rusak.

Setelah sekian lama berpisah, tiba-tiba beberapa bulan lalu, saat saya baru pulang ke rumah ketika libur kuliah, saya melihat TV ini ada di kamar saya, diletakkan di lantai begitu saja.

Ketika saya bertanya pada Ibu saya mengenai TV ini, katanya TV LG ini sudah selesai diperbaiki, dan nanti akan dibawa oleh kakak saya untuk dijual…

Hoo… buat dijual, toh.  Saya kira jawabannya, “sok aja, dit, kalau TV itu mau dibawa ke kosan” atau “Iya, TV itu emang sengaja ditaro di kamar Dita, biar bisa nonton TV di kamar.”  Tapi ternyata Cuma buat tempat penyimpanan sementara aja… *plop*

Hari berganti hari, minggu berganti minggu, dan bulan berganti bulan, TV itu belum jadi juga dijualnya.  Akhirnya TV itu pun saya pindahkan ke atas lemari (posisi yang sangat strategis kalau saja TV itu memang bisa dipake nonton), karena kalau ditaruh di lantai akan membuat kamar saya terasa sempit dan berantakan.

Lalu, apa hubungannya TV dengan Liverpool?

Awalnya kehadiran TV itu biasa-biasa aja buat saya.  Kenyataan bahwa TV itu akan dijual juga tidak membuat saya keberatan, apalagi merasa kehilangan.  Sampai kemarin, saat saya teringat peristiwa yang terjadi pada 25 Mei 2005 di Istanbul, atau 26 Mei 2005 WIB.

Saat itu, pukul 01.00 dinihari saya sudah standby di depan TV LG abu-abu 14 inchi ini, menunggu kick-off pertandingan final Liga Champions 2005 antara AC Milan melawan Liverpool.  Final LC pertama  Liverpool dalam 20 tahun terakhir.  Final pertama Liverpool setelah Tragedi Heysel yang menjadi penutup era keemasan LFC di Eropa.  Dan saya ingin Liverpool menang, seperti di pertandingan-pertandingan sebelumnya, salah satunya pertandingan semifinal melawan Chelsea yang juga saya saksikan melalui layar kaca TV LG abu-abu 14 inchi ini.

Pertandingan dimulai.  LFC turun dengan kekuatan terbaiknya.  Dudek.  Hyypia.  Carragher.  Finnan.  Gerrard.  Xabi.  Baros si top skor Euro 2004.  Juga Kewell yang biasanya cedera, kini siap menjadi inspirator serangan The Reds.

Tapi, apa yang terjadi? Di babak pertama LFC seolah tidak memberikan perlawanan yang berarti kepada Milan.  Pertahanan LFC pun sangat mudah ditembus.  Hasilnya, 3 gol tanpa balas bersarang di gawang Jerzy Dudek, hingga wasit meniup peluit tanda berakhirnya paruh pertama pertandingan.

Layar kaca TV LG abu-abu 14 inchi tidak menipu.  Itulah yang terjadi.  Orang boleh pesimis.  Orang boleh kecewa dan menganggap melihat babak kedua pertandingan  hanya buang-buang waktu.  Jika saya berpikiran seperti itu, mungkin saya sudah menekan tombol Off dari TV LG abu-abu 14 inchi dan melewatkan salah satu partai final LC yang paling dikenang.

Namun, entah kenapa saya terlalu optimis LFC mampu mengalahkan Milan, atau setidaknya menyamakan kedudukan menjadi 3-3.  suara hati saya saat itu sempat berkata,

“Jangan khawatir.  Liverpool pasti bisa menyamakan kedudukan menjadi 3-3.  Sebuah tim di Liga Italia pun baru-baru ini dapat melakukannya kepada Milan.  Bukan mustahil Liverpool mampu mengulangi kejadian serupa.”

Saya pun membiarkan TV LG 14 inchi saya menyala.  Dan melalui layar kacanya-lah saya meyaksikan momen itu.  Momen ketika Liverpool mampu menyamakan kedudukan menjadi 3-3 hanya dalam waktu 6 menit.  Momen adu penalti yang mempertunjukkan kecerdasan Dudek, sang penjaga gawang, yang mampu menggagalkan eksekusi pemain-pemain Milan.  Momen ketika Steven Gerrard, seorang pemain home-grown Liverpool yang saat itu berusia 24 tahun, mengangkat trofi Liga Champions.  Dan, untuk pertama kalinya saya melihat pelatih Liverpool saat itu, Rafael Benitez, tersenyum.

TV di atas lemari

Sejak saat itu, saya hampir tak pernah melewatkan satu pun pertandingan siaran langsung Liverpool, baik di Liga Inggris, Piala FA, maupun di Liga Champions.  Tentu saja saya menyaksikannya melalui layar kaca TV LG CRT 14 Inchi warna abu-abu ini.  Pokoknya, tak ada minggu tanpa nonton Liverpool… Hehehe… (apa sih?)

Selain itu, saya juga menonton pertandingan perempat final Piala Dunia 2006 antara Inggris melawan Portugal melalui TV ini.  Anehnya, meski Inggris kalah dengan tragis, namun saya tidak menangisi kekalahan itu.  Bukan karena hal tersebut tidak menyakitkan, tapi saya memang sudah menangis ketika Wayne Rooney dikartumerahkan wasit akibat termakan provokasi pemain Portugal.  Huhuhu… (itu pertama dan mudah-mudahan satu-satunya momen ketika saya menangisi pemain Manchester United! :P)

Oh, iya, jangan kira TV ini Cuma saya pergunakan untuk nonton bola, lho… TV ini juga membantu saya dalam melaksanakan tugas mencatat Kuliah Subuh dari guru agama saya sewaktu SMA.  Dan biasanya, saya juga belajar atau mengerjakan PR sambil ditemani suara dan cahaya dari layar kaca TV ini…

Yah, itulah sekelumit kisah saya dengan TV LG CRT 14 inci warna abu-abu yang selama beberapa tahun setia menemani saya menonton pertandingan-pertandingan Liverpool, hingga Liga Inggris tak lagi disiarkan secara penuh di TV.  Seperti Klub Liverpool yang sepertinya akan segera memiliki pemilik baru, yaitu Kenny Huang, TV LG 14 inci ini mungkin saja akan segera berpindah tangan, atau… jangan-jangan malah kembali menjadi andalan di ruang keluarga kami, mengingat TV merek Sony warna hitam yang tadinya sudah direparasi kini mulai rusak lagi… hehehe… kita tunggu saja kelanjutan kisahnya.

Selesai pada 04/08/2010; 15:25

2 Comments

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s