Pedas vs Pahit

Pedas dan pahit adalah dua rasa yang cenderung dihindari orang karena sifatnya yang “menyiksa” lidah manusia.  Pedas, yang sebenarnya bukan merupakan rasa, melainkan sensasi, menimbulkan panas pada lidah.  Rasa pedas antara lain terkandung pada cabai dan paprika.  Rasa pahit yang secara paling peka dikecap oleh lidah bagian belakang biasanya identik dengan obat, namun, pahit juga terkandung dalam sebagian tanaman, seperti pare, daun pepaya dan biji kopi.

Cabai merah

Cabai merah

Meski dihindari sebagian orang, tidak sedikit orang lain yang justru menyukai, bahkan menggemari kedua rasa ini.  Rasa pedas disukai karena dapat menambah nafsu makan, dan bagi sang juru masak, khususnya, dapat menyamarkan kekurangan sang juru masak dalam meramu bumbu-bumbu, karena rasa lain menjadi tidak penting bila sudah ada rasa pedas dalam makanan.  Selain itu, rasa pedas juga dapat mengurangi rasa enek yang timbul bila kita menyantap makanan yang berminyak, seperti gorengan, gulai, atau makanan bersantan.  Oleh karena itu muncullah berbagai jenis masakan yang identik dengan rasa pedas, seperti masakan padang, rawon, ayam penyet, dan sebagainya.  Sementara itu, makanan dengan rasa pahit juga digemari banyak orang karena dapat menambah nafsu makan, seperti pare dan daun pepaya.  Daun pepaya bahkan disinyalir memiliki manfaat yang baik bagi kesehatan manusia.  Sementara itu, minuman yang terbuat dari biji kopi yang pahit juga banyak dicari orang karena rasanya yang khas dan dapat menghilangkan kantuk.  Budaya minum kopi juga tidak hanya ada di Indonesia, namun juga di berbagai negara lainnya seperti di Italia dengan Capuccino-nya dan di negara-negara jazirah Arab dengan Kopi Arabika-nya yang khas.  Berbagai gerai kopi ternama bahkan bermunculan di seantero negeri, misalnya Starbucks, Kopi Luwak, dan sebagainya.

Kopi

Kopi

Selain berjaya di dunia kuliner, kedua rasa ini, pedas dan pahit, juga merajalela di dunia kesusasteraan atau tulis-menulis.  Pedas dan pahit sama-sama digunakan untuk menggambarkan situasi atau hal-hal yang tidak menyenangkan.  Contoh dari penggunaannya adalah dalam ungkapan “Kritikan Pedas” dan “Kenyataan Pahit”.

Pada ungkapan “kritikan pedas”, rasa pedas digambarkan sebagai sesuatu yang bersifat mengejutkan, tegas, blak-blakan dan mengandung rasa amarah di dalamnya.  Hal ini sesuai dengan sifat rasa pedas yang membuat orang yang menyantap makanan berasa pedas terkejut dengan sensasinya, yang meski sudah “dipadamkan” dengan segelas air belum tentu akan hilang.  Selain itu, wajah sang penyantap makanan juga akan memerah akibat sensasi panasnya, dan terkadang mengeluarkan air mata atau ingus bila makanan yang ia santap sangat pedas rasanya.  Kritikan pedas ini dapat ditanggapi secara positif maupun negatif oleh orang yang menerimanya.  Kritikan pedas yang ditanggapi positif akan membuat orang menjadi bersemangat untuk lebih baik lagi, yang mungkin digambarkan dengan nafsu makan yang meningkat dan membuat orang lebih banyak minum air putih dalam dunia kuliner.  Sedangkan kritikan pedas yang ditanggapi negatif hanya akan membuat sang penerima kritikan menjadi marah, sedih, dan menderita.  Hal ini mungkin selaras dengan wajah yang memerah, keluarnya air mata, dan sensasi rasa panas yang timbul saat memakan masakan pedas.

Sementara itu, ungkapan “kenyataan pahit” menggambarkan sesuatu yang menyedihkan, tragis, dan terkadang menimbulkan perasaan trauma pada orang yang mengalaminya.  Oleh karena itu, di dunia nyata, banyak orang yang menghindari meminum obat atau jamu karena rasanya yang pahit dan tidak enak.  Namun, banyak juga yang tetap menyukai, atau mungkin terpaksa menyukai rasa pahit karena dapat membawa efek yang baik bagi tubuh, misalnya menyembuhkan suatu penyakit atau membuat badan menjadi lebih kuat dan segar.  Hal ini selaras dengan “kenyataan pahit” yang bisa membuat orang lebih dewasa, lebih bijak dan menjadi pribadi yang lebih baik lagi, karena orang tersebut dapat belajar dan mengambil hikmah dari pengalaman pahit yang dimilikinya.

Dari “kritikan pedas” dan “kenyataan pahit” di atas, tampaknya rasa pedas dan pahit yang menyiksa lidah kita sebenarnya dapat bermanfaat positif bila kita tanggapi dengan positif pula.  Benar bahwa segala sesuatu yang tidak baik di mata kita mungkin sesungguhnya sangat bermanfaat baik bagi diri kita.  Tinggal Anda yang kini menentukan, masihkah Anda menghindari kedua rasa ini?  Atau, Anda justru menggemari salah satu dari kedua jens rasa ini?

Yah, apapun rasa yang Anda sukai, pedas atau pahit, saya ucapkan (seperti dalam tulisan yang sering tertera di atas tutup kardus makanan) Selamat Menikmati… 🙂

Selesai pada Kamis, 24 Juni, 11.42 Siang

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s