Naik Kereta Pakuan Jam 10.20, Bisa Buka Laptop + Internetan di Dalam Kereta!!!*

"Woy, Rugi Beli Karcis AC!!"

"Woy, Rugi Beli Karcis AC!!"

Wah, KRL Ekonomi sama Ekonomi AC nggak ada bedanya.

Biar naek Ekonomi AC tetep aja desak-desakan, ada yang gelantungan di pintu, bahkan ada yang duduk di “lantai dua” (baca: atap).  Luar biasa.

Tadi pagi saya naik Pakuan yang jam 10, penuhnya juga sama kayak gini, dek (maksudnya sama dengan kereta AC jam 6.30 yang ga beda penuhnya dengan kereta ekonomi)

Woy, Rugi beli karcis AC!!!

Sudah sering saya mendengar ungkapan keluhan dari teman-teman saya mengenai perbedaan KRL Jabodetabek kelas ekonomi, ekonomi AC dan Pakuan. Dari beberapa tanggapan yang saya dengar, saya meng-generalisasinya dan menyimpulkan bahwa ketiga jenis kereta yang beda harga tersebut sesungguhnya nggak ada bedanya.

Yah, kalau sempat saya uji secara statistik mungkin kesimpulannya akan jadi seperti ini:

Ho gagal ditolak (p-value<0,05): Tidak ada perbedaan kepuasan penumpang yang signifikan antara kereta ekonomi, AC, dan Pakuan.

Sayang sekali saya tidak sempat mengujinya.  Mungkin bisa buat skripsi nanti?😛

Inilah aksi para "Spderman" di atap kereta

Inilah aksi para "Spiderman" di atap kereta

OK.  Kembali ke topik.

Jadi, tadinya saya sempat berpikir, dengan keadaan yang ‘tidak ada bedanya” seperti itu, ngapain saya mahal-mahal beli karcis ekonomi AC (Rp 5.500) bahkan Pakuan (Rp 11.000).  Mendingan saya naik kereta ekonomi yang Rp 2000.

Meskipun demikian, saya kini sering juga naik kereta ekonomi AC, mengingat pertimbangan waktu, dan terkadang kereta ekonomi yang tersedia hanya satu set (4 gerbong) dari yang seharusnya 8 gerbong.  Bisa dibayangkan batapa padatnya kereta tersebut.

Namun, untuk kereta Pakuan, Hmm… saya masih berpikir panjang bila harus naik kereta itu, mengingat harga karcisnya yang tidak murah, dan mengingat perjalanan saya naik kereta cuma dari stasiun bogor hingga pondok cina, atau sebaliknya, dan nggak pernah sampai Stasiun Jakarta Kota.  Bukankah harga karcis Pakuan sama saja, mau turun di Bojonggede (Stasiun Kedua setelah stasiun Bogor) atau di Jakarta Kota (Stasiun Terakhir) tetap saja bayar Rp 11.000,-.

Oleh karena itu saya tidak pernah menumpangi kereta Pakuan.

Tidak pernah… setidaknya sampai pagi ini.

Pagi ini saya masih harus berangkat ke kampus karenaada satu mata kuliah yang belum terselesaikan.  Mengingat kuliah biasanyadimulai pukul 10.00, sayapun berangkat dari rumah saya di kawasan Cisarua, Bogor pukul 08.00 pagi.  Menurut perhitungan saya, dengan berangkat pukul 08.00 saya bisa naik kereta ekonomi AC yang jam 09.24.  Kalau masih terlabat juga, tenang… Beberapa menit setelah kereta tersebut berangkat masih tersedia kereta ekonomi, untuk keberangkatan berikutnya.

Ternyata saya salah.

Setelah sampai di stasiun Bogor (pukul 09.30 waktu stasiun) ternyata tidak ada satu keretapun yang tersedia.  Kereta AC sudah berangkat beberapa menit sebelumnya.  Kereta ekonomi yang biasanya masih tersedia di jalur tujuh pun entah kenapa tidak ada (atau memang biasanya tidak ada, ya??).

kabar buruk pun semakin bertambah ketika saya mendengar bahwa keberangkatan berikutnya, kereta ekonomi tujuan Jakarta, berangkat pukul 10.10.

Menyikapi kenyataan bahwa saya pasti telat sampai di kampus, saya pun pasrah dan menunggu sampai kereta jam 10.10 itu tiba.

Begitu kereta tersebut tiba, saya, seperti biasa, tidak langsung berebut untuk masuk, karena saya “menghormati penumpang yang turun terlebih dahulu.”  Selain itu juga, saya benci berdesak-desakan.

Akhirnya sayapun berhasil masuk ke dalam kereta tersebut dan mendapat posisi berdiri yang “strategis”: di pinggir, dekat pintu, dan depan jendela.  Jadi dijamin nggak bakal kehabisan nafas.  hehe…

Tapi entah mengapa, meskipun posisinya sudah strategis begitu, saya tiba-tiba saja merasa pusinggg sekali, seperti mau pingsan, padahal saat itu keretanya sudah mau berangkat.

Maka, apa boleh buat, daripada ambil risiko untuk mempermalukan diri sendiri dengan pingsan di kereta ekonomi (Apalagi setelah bangun dari pingsan kita nggak tahu apakah barang-barang: tas, dompet, HP, masih kita pegang atau sudah “berpindah tangan”), sayapun langsung keluar dari kereta tersebut dan mencari tempat duduk terdekat.

Beberapa saat setelah saya meninggalkan kereta, ternyata kereta tersebut langsung berangkat.

Sadar bahwa saya sudah membolos lebih dari tiga kali, terpaksa saya naik kereta untuk keberangkatan berikutnya: Kereta Pakuan Express tujuan Jakarta, dengan tarif karcis 11.000 rupiah.

Dan itu adalah pengalaman saya yang pertama naik kereta Pakuan.

Suasana di KRL Ekonomi AC (Kalau Lagi Nggak Penuh :D)

Suasana di KRL Ekonomi AC (Kalau Lagi Nggak Penuh :D)

untungnya, kereta tersebut tidak terlalu penuh (malah cenderung “kosong” bagi saya), jadi sekalipun saya tidak kebagian tempat duduk, tapi… lumayanlah, masih bisa senderan di dekat pintu. Hehe…

Dan ada satu hal yangmengesankan bagi saya selama saya naik kereta tersebut.  Bayangkan, ada bapak-bapak yang buka laptop dan internetan dengan leluasanya di dalam kereta Pakuan.

Ya, bapak yang naik di stasiun Bojonggede dan mengenakan kaus hitam bergambar menara kembar Petronas itu, karena tidak kebagian tempat duduk, langsung menggelar koran di lantai, tepatnya di depan pintu geser.

Bapak itu lalu mengeluarkan sebuah netbook Toshiba (Merek Laptop yang kabarnya paling ramah lingkungan), dan memasang sebuah benda yang tampak sebagai sebuah USB Modem pada laptopnya.

Hmm… saya membayangkan kalau apa yang dilakukan bapak itu terjadi di kereta ekonomi.  Hehe, mungkin baru sapai satu stasiun, netbooknya sudah dijambret orang.

Saya sendiri kadang-kadang merasa canggung untuk sekedar ber-sms-an di kereta, dalam kondisi dan situasi tertentu.

Dan perilaku bapak tersebut membuat saya berpikir, hmm… enak juga ya, naik kereta pakuan.  Kalau keadaannya kosong, bisa buka laptop di dalam kereta, bisa belajar dari slide tanpa harus nge-print, dan bisa mengerjakan UAS takehome dalam kereta.  Heu~

Dan, bagaimanakah reaksi para penumpang lainnya melihat perilaku si Bapak yang tampaknya sudah beruban ini?

Jawabannya adalah: biasa-biasa saja.  Tampaknya hanya saya yang memperhatikan dengan seksama.  Apa karena memang mereka sudah terbiasa, atau karena saya yang norak, saya tidak tahu…  Padahal tadinya saya pikir hal tersebut dapat menimbulkan kesenjangan sosial (lebaykah?).  Tampaknya menemukan laptop dan lebih mudah daripada menemukan kacang goreng di zaman ini.

Yah, harapan saya adalah, semoga perkeretaapian Indonesia bisa semakin berkembang dengan lebih baik dan lebih berkualitas, mengingat kereta adalah sarana transportasi massal yang dapat digunakan untuk mengurangi pengeluaran emisi yang dikeluarkan oleh kendaraan-kendaraan pribadi.  Dan kereta lama-kelamaan akan ditinggalkan oleh penggunanya bila PT KAI tetap semena-mena dalam memberikan pelayanan terhadap para penumpang kereta, terutama KRL Jabodetabek.

Inilah Suasana Stasiun KA Bogor Tahun 2020 *duniakhayal*

Inilah Suasana Stasiun KA Bogor Tahun 2020 *duniakhayal*

Keterangan: *Pake modem sendiri tentunya.  Heghegheg –> buat yang berpikir ini gratis, tidak mungkin.  Mustahil!

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s