Plastik Dulu, Plastik Sekarang

Special Invitation!  PELATIHAN JURNALISTIK.  KAMIS, 29.04.2010, JAM 15.30 di AULA A. Pembicara: Bathara Rangga (Pemimpin umum SUMA) dan Dien Anshori (dosen perencanaan media).  FREE sertifikat & snack & seminar kit untuk 50 pendaftar pertama.  BE THERE!!!

begitulah bunyi sms yang saya terima dari seorag teman saya, yang kebetulan terlibat dalam pelaksanaan pelatihan jurnalistik tersebut.  Ya, “Plastik” yang saya sebut dalam judul tulisan ini bukanlah plastik yang biasa kita pakai sebagai bahan kemasan makanan.  Plastik yang ini adalah singkatan dari “Pelatihan Jurnalistik.”  Tahun lalu, kebetulan saya tergabung juga dalam organisasi yang menyelenggarakan acara ini, namun tahun ini.. tidak lagi.  Dan sepertinya Plastik kali ini memiliki banyak hal-hal baru yang membedakannya dengan Plastik tahun lalu ataupun Plastik-plastik tahun sebelumnya.  Apa sajakah hal itu??

Tidak seperti tahun ini, yang mana penyelenggaraan plastik dibuka untuk umum, semua orang boleh ikut, Plastik tahun lalu hanya diikuti oleh orang-orang yang diundang saja, yaitu mereka yang tergabung dalam media dari seluruh lembaga kemahasiswaan yang ada di FKM UI..  Kalau sekarang ada Free snack + sertifikat + seminar kit, tahun kemarin, ya, Free Snack juga sih, untuk seluruh peserta malah (karena pesertanya terbatas..).  Kemudian ada sertifikat juga (tapi mungkin karena ada masalah dalam reimburse atau pendanaannya, jadi hingga kini saya belum mendapatkan sertifikatnya.. atau jangan2 cuma saya aja yg belum dapet, hehe nggak mungkin..).

Dan, yang paling saya ingat tentunya mengenai Plastik tahun lalu adalah… pembicara dan materi yang disajikannya…

Plastik tahun lalu mengundang seorang pembicara saja, yaitu Kak Faisal Karim.  Beliau adalah mantan ketua KSM UI yang juga merupakan Mapres Fisip tahun 2009.  Selain itu, beliau juga meraih peringkat ke-3 Mapres UI di tahun yang sama.  sebuah fakta yang menarik, nih, Plastik tahun kemarin diselenggarakan sehari setelah malam penganugerahan Mapres UI..  Lalu, mengapa beliau yang dipilih sebagai pembicara, itu karena tulisan-tulisannya sudah banyak yang dimuat di surat kabar nasional seperti Kompas, Koran Tempo, dll.  Bahkan dalam materinya, beliau sempat memberikan tips agar tulisan kita bisa dimuat di surat kabar tertentu (misalnya, kalau di Koran Tempo, sebaiknya memberi judul tulisan dengan istilah yang… tidak biasa.  Contohnya, ia pernah menulis artikel opini berjudul Le Borgeuis Indonesia, padahal isinya kalau nggak salah cuma membahas para koruptor di DPR..  tapi dengan judul  yang nggak biasa ini, artikel bisa terlihat lebih menarik untuk dibaca).

Meski demikian, materi yang disampaikan kadang terasa agak terlalu “berat” bagi saya yang kemampuan menulisnya masih terbatas  dan wawasannya pun, yah cukuplah.  Cukup pas-pasan maksudnya.  Sehingga ketika Kak Faisal menyampaikan sebuah materi di mana kita harus menebak ini tulisan siapa, apakah tulisan Budiarto Shambazy, Paolo Coelho, atau Taufiq Ismail (tanpa diberi pilihan mengenai nama pengarangnya), seluruh kelas menjadi hening..

Tapi satu hal yang saya camkan dari Plastik tahun lalu adalah kata-kata bahwa, sesering apapun kita mengikuti pelatihan menulis, kita tidak akan pernah menjadi penulis yang baik jika tidak pernah berlatih menulis.  Mengutip kata-kata Shofwan Al Banna, Menulis itu seperti Film kungfu.  sesering apapun kita menontonnya, kita tidak akan menjadi master kungfu bila tidak pernah berlatih kungfu sama sekali.  Makanya sekarang saya sedang rajin-rajinnya meng-update postingan blog saya, meski masih banyaaaakkkk sekali kekurangan, tetapi setidaknya bisa memotivasi dan melatih kemampuan menulis saya.

sayang sekali, sepertinya saya tidak dapat mengikuti Plastik tahun ini, karena jadwal yang bentrok dengan agenda organisasi (itu juga nggak tahu mau ikut atau nggak).   padahal sudah saya agendakan dari jauh-jauh hari lho, sayang sekali, ya..

Yah, semoga Plastik yahun ini dapat lebih baik dari tahun lalu.  dan menurut saya, dibukanya Plastik untuk umum mencerminkan usaha tang semakin besar untuk menjadikan menulis sebagai budaya di FKM UI.  Ca Yoo buat anak 2 Biro Media 2010!!

Nb: Saya sempat lihat blog-nya Kak Faisal Karim.  Hm, kalau dosen saya, Pak Tris bisa mengomentarinya, saya yakin dia akan bilang kalau “blog ini tidak menggunakan bahasa manusia.”  tulisan yang terbaru, sih bahasanya sudah lebih bersahabat, tapi tulisan2 sebelumnya itu lho.. Mungkin karena saya anak Kesmas, kali, ya, jadi tidak begitu paham dengan bahasa atau istilah yang digunakan oleh mahasiswa Fisip.  But that was a soulful blog.. Salut!

Mau baca blognya? Klik di sini aja..

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s