Seminggu setelah Diteror Hari Kartini…

Minggu ini bagi saya adalah minggu Kartini…
Bagaimana tidak?  Meski Hari Kartini hanya diperingati satu hari saja, yaitu hari Rabu tanggal 21 April, sejak awal minggu lalu suasana Hari Kartini sudah terasa, terutama di lingkungan FKM UI.  Ya, di fakultas ini memang diadakan sebuah acara bernama Tebongkar (Techno, Book Lounge and Kartini’s Day) sebagai rangkaian acara memperingati Hari Kartini.  Puncak peringatan Hari Kartini tentu saja digelar pada tanggal 21 April melalui acara Pemilihan Kartini & Kartono (mungkin maksudnya seperti Mojang dan Jajaka di Jawa Barat atau Abang None di Jakarta).

Jangan tertawa dulu, ya mendengar nama Kartono.  Saya pun pada awalnya mengira  pemilihan nama Kartono sebagai pendamping Kartini sepertinya ngasal, cuma dipantas-pantaskan saja dengan nama Kartini dan tidak ada esensinya sama sekali, sampai akhirnya saya membaca tulisan ini.  Hoo, ternyata Kartono itu adalah salah seorang kakak dari RA Kartini…  Bukan hanya itu, Kartono juga ternyata memiliki bakat yang beraneka ragam.  Selain menjalani profesi dokter, beliau juga sempat menjadi wartawan dan menguasai berbagai bahasa.  Kartono juga sangat menghargai sepak terjang adiknya Kartini yang memiliki berbagai gagasan untuk memperjuangkan kesetaraan hak bagi kaum wanita.  Tapi, hmm… saya nggak tahu juga, apa makna dari nama “Kartini-Kartono” yang terpikirkan oleh penggagas acara tersebut.   Mungkin saja ada interpretasi lain, saya tidak tahu.

Selain acara Kartini-Kartono, pihak UI sendiri mengadakan sebuah seminar bertajuk “Perempuan dan Rokok, Sebuah Emansipasi atau Ketidakberdayaan?”  di Balai Sidang BNI.   Sebuah seminar yang sangat menarik perhatian saya (apalagi acaranya gratis), namun sayang sekali saya tidak bisa mengikuti seminar tersebut karena waktu pelaksanaannya bertepatan dengan jam kuliah (maaf jadi curhat =p).

“Teror” kartini tidak hanya saya rasakan dari lingkungan di fakultas saja.  Di dunia maya pun, khususnya pada tanggal 21 April, nuansa Kartini-an tetap kentara.  Misalnya saja ketika saya membuka situs Kompasiana.com, hampir semua tulisan terbaru yang ada membahas tentang Kartini, emansipasi wanita, dan hal-hal lain yang berhubungan.  Sepertinya semua blogger tidak ingin kehilangan momentum untuk menulis sesuatu yang berhubungan dengan hari Kartini.  Dan yang menjadi perhatian saya adalah, hamper semua, eh.. tidak, SEMUA tulisan yang ada di situs tersebut mengelu-elukan Kartini sebagai Ibu Pejuang Hak-Hak Wanita.  Kartini memang sebuah simbol perjuangan emansipasi wanita Indonesia, namun bukankah pahlawan wanita Indonesia bukan hanya Kartini?
Suasana yang sama saya dapatkan ketika membuka e-mail saya.  Banyak sekali e-mail bertema Hari Kartini  yang saya terima pada tanggal 21 April lalu.  Namun dari sekian banyak e-mail tersebut, ada satu yang menarik perhatian saya.  Sebuah e-mail yang meski masih bertema Kartini, namun isinya justru mempertanyakan nilai kepahlawanan Kartini.  E-mail yang berasal dari salah satu milis langganan saya ini intinya menyayangkan mengapa Kartini yang dijadikan simbol perjuangan emansipasi wanita di Indonesia, padahal masih banyak pahlawan wanita lain yang berjasa lebih besar dari Kartini, namun kalah populer dibanding pahlawan nasional kelahiran Jepara tersebut.  Misalnya saja Raden Dewi Sartika dari Bandung yang konon merupakan pendiri dari sekolah khusus wanita pertama di Indonesia.  Sekolah yang diberi nama Sekolah Kautaman istri itu didirikan pada tanggal 16 Januari 1904.  Yang membedakan Dewi Sartika dari Kartini ialah, bila RA Kartini lebih banyak menuangkan karya-karyanya melalui tulisan (dalam bentuk surat), Dewi Sartika justru memilih untuk langsung merealisasikan ide yang ia punya (oleh karena itu, sangat sedikit peninggalan tertulis yang dimiliki oleh Dewi Sartika).  Hmm, yang seperti Dewi Sartika ini biasanya disebut dengan unsung hero, yaitu orang yang meskipun memiliki jasa yang besar, namun kurang dikenal/dikenang oleh masyarakat..  kalau secara harfiah, dalam bahasa Indonesia unsung hero berarti “pahlawan yang tidak dinyanyikan.”  Mungkin kurang masuk akal kedengarannya, tapi memang benar, kan, kalau pahlawan wanita yang namanya diabadikan dalam lagu hanyalah RA Kartini (dalam lagu Ibu Kita Kartini), setidaknya lagu itulah yang dikenal banyak orang.  Kalaupun ada lagu lain yang ditujukan untuk mengenang pahlawan wanita tertentu, hmm.. sepertinya kalah populer dibandingkan lagu ini..

Meskipun demikian, saya tetap respek dengan ibu Kartini yang di zamannya sudah berpikir jauh ke depan untuk memajukan kesetaraan hak antara pria dan wanita, dan sempat ditulis pula dalam bentuk surat, dan (beruntungnya) sempat dibukukan pula.. Namun bukan berarti simbolisasi Kartini sebagai ikon Pahlawan Emansipasi Wanita Indonesia menutup mata kita bahwa ada banyak pahlawan-pahlawan wanita lain yang memiliki peran lebih daripada Ibu Kartini.

3 Comments

  1. Ping balik: Masih Merasa “Diteror” Kartini (baca:SMI) « Coldwind's clips

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s