Se-menjual itukah Nama UI?

Semenjual itukah nama UI, sampai-sampai pedagang ayam penyet pun memberi kiosnya nama “Ayam Penyet Pindahan Kantin FISIP UI,” lengkap dengan tulisan warna oranye… warna identitas FISIP…

Ya, warung ayam penyet itu saya lihat ketika melintasi jalan raya puncak, megamendung, tepatnya di depan salah satu pintu masuk Taman Wisata Matahari, yang dulunya terdapat Gapura Desa Cilember (tapi sekarang sudah dihancurkan).  Sepertinya warung itu memang belum lama berdiri karena sebelumnya saya tidak pernah melihatnya…

Pertanyaannya, kenapa pedagang itu pindah dari Kantin FISIP ke pinggir jalan raya puncak? Saya pikir berdagang di kantin fakultas sangat menguntungkan.. Jangan-jangan ayam penyet di FISIP tidak mampu bersaing dengan restoran korea dsb (jgn sik tahu deh dit..).  Btw, pedagang itu beneran pindahan dari FISIP UI nggak ya? Hayo, yang anak FISIP, merasa di kantinnya pernah ada yg jualan ayam penyet nggak? He-he…

Dan bukan sekali ini saja ada orang yang barusaha dengan menjual nama UI..

Dulu, ketika saya masih semester 1 atau 2, saya pernah melihat brosur pengobatan alternatif.  Di sana, penggagas pengobatan alternatif itu mengatakan bahwa ia merupakan lulusan FKM UI… Hoo… Ternyata selain jadi konsultan, pegawai negeri dan aktivis LSM, lulusan FKM juga bisa jadi ahli pengobatan alternatif. Bagus.. bagus…

Dan nama UI yang menjual itu bukan hanya digunakan untuk berusaha/berdagang, melainkan juga untuk memeperkenalkan diri/orang lain.. Misalnya saja ketika saya mengunjingi nenek saya di Garut yang usianya sudah mencapai lebih dari 100 tahun, sehingga terkadang agak lupa dengan nama cucu-cucunya.  Jadi kalau cucu-cucunya datang, mereka harus memperkenalkan diri dulu kepada nenek.  Yang saya perhatikan, cara ayah memperkenalkan diri saya kepada emah (panggilan akrab nenek saya) sebelum saya masuk UI dengan setelah saya kuliah di UI berbeda, di mana perbedaannya?

Ini cara memperkenalkan sebelum saya masuk UI..

Nenek: saha ieu teh? Nu bungsu tea nya? (siapa ini? yang bungsu ya?)

Ayah: muhun, mah.  Eta tea ning, nu palai gaduh kamar nyalira tea… (Iya, mah. Itu tuh, yang ingin punya kamar sendiri*)

Dan ini cara memperkenalkan setelah saya masuk UI..

Nenek: saha ieu teh? nu palai gaduh kamar nyalira tea (Siapa ini? Yang ingin punya kamar sendiri itu, ya?)

Ayah: Muhun mah, ieu nu kuliah di UI tea.. (iya, mah, ini yang kuliah di UI itu, lho..)

Lihat betapa nama UI menjual, bahkan untuk nenek saya yang mungkin nggak mengetahui apa itu UI..

Ya, betul, bagi anak UI jangan ge-er dulu, karena meski memiliki nama yang tenar, ternyata masih banyak penduduk Indonesia yang tidak mengetahui UI… Buktinya saat anak UI mengadakan acara bakti sosial dengan mengenakan Jaket kuning kebanggaannya, banyak masyarakat yang mengira bahwa kita berasal dari partai Golkar.  Setelah dijelaskan bahwa kita ini bukan dari golkar, tapi dari UI, eh mereka malah mengira kalau UI itu partai juga.. ampun…

*Peristiwa saat saya umur 5 tahun yang selalu diingat oleh nenek saya.  Benar kata kakek gerombolan siberat dalam cerita The beagle Boys vs Money Bin bahwa menjelang lansia, ingatan jangka pendek kita akan menurun, sedangkan ingatan jangka panjang kita justru akan semakin tajam..

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s