Bahasa yang Tidak Digunakan di Sekolah Akan Punah(?)

akhirnya saya sempat juga meng-update isi blog ini setelah beberapa minggu lamanya tenggelam dalam kesibukan UTS dan tugas kuliah. Hmm, sebenarnya UTS di fakultas saya belum berakhir, namun alhamdulillah beberapa tugas (yang menurut saya justru lebih menyibukkan ketimbang UTS), sudah terselesaikan.
OK, kali ini postingan saya akan mengulas tentang sebuah artikel yang dimuat di Kompas Cetak edisi minggu lalu (saya tidak ingat persis hari apa). artikel yang dimuat di rubrik Humaniora ini berjudul “Bahasa yang Tidak Digunakan di Sekolah Akan Punah.”
Begitu membaca judul artikel ini, pikiran saya tertuju pada bahasa-bahasa daerah di Indonesia yang penggunaannya sudah berkurang. Dahulu, bahasa daerah merupakan bahasa yang digunakan dalam keluarga inti. Misalnya saja, dalam sebuah keluarga, percakapan antara ibu dan anak, ataupun antar anggota keluarga lainnya pasti menggunakan bahasa daerah. Namun saat ini, penggunaan bahasa daerah di keluarga inti sudah mulai berkurang. misalnya saja di daerah asal saya, yaitu di Bogor, di wilayah yang masih tergolong jauh dari pusat perkotaan pun, perbincangan antara orangtua dan anak mulai lebih banyak menggunakan bahasa Indonesia. Dan, sebenarnya di keluarga saya pun, ketika saya masih dalam usia TK-SD, keluarga saya lebih banyak berbincang-bincang dengan saya dengan menggunakan Bahasa Indonesia, bukan dengan menggunakan bahasa sunda yang merupakan bahasa daerah saya. Ketika saya tanyakan alasannya kepada orangtua saya, alasannya adalah, dengan menggunakan bahasa Indonesia, saya daat lebih mudah bersosialisasi di sekolah. Padahal, dampak yang ditimbulkan dari kurangnya penggunaan bahasa daerah di keluarga inti bagi saya adalah, saya menjadi agak canggung bila harus berbicara dengan bahasa daerah selain dengan keluarga inti saya. Apalagi jika harus berbicara dengan saudara-saudara saya yang berasal dari bandung atau garut dengan bahasa sundanya yang halus, biasanya saya hanya bisa berkata “muhun; leres; oh, sae… sae.., dsb” (artinya: iya; betul; oh, bagus.. bagus… dsb..) Selain itu, saya juga menjadi canggung bila harus melakukan transaksi atau tawar menawar di pasar tradisional, yang tentunya lebih “afdhol” bila dilakukan dengan menggunakan bahasa daerah. Hmm, tapi menurut saya rasa canggung itu sebenarnya lebih bersifat psikologis, karena bila sedang berbicara dengan keluarga inti saya, sebenanya bahasa sunda saya nggak jelek-jelek amat tuh. Hanya perlu dimaklumi jika bahasa sunda saya agak kurang halus. konon, katanya bahasa sunda yang digunakan orang bogor memang agak kasar jika dibandingkan orang bandung, garut, dan sekitarnya.

Untungnya, meski mulai jarang digunakan sebagai bahasa utama di keluarga inti, bahasa daerah masih dapat tetap bertahan selama masih diajarkan di sekolah.  Dan setahu saya, rata-rata sekolah negeri di Jawa Barat masih mengajarkan Bahasa Sunda sebagai salah satu mata ajaran muatan lokal.  meski demikian, ketika saya masih duduk di bangku SMA sekitar dua tahun lalu, sebenarnya mata pelajaran ini sempat tidak diajarkan.  akan tetapi saat saya menginjak kelas tiga SMA, mata pelajaran ini pun diajarkan kembali.

Selainmenyinggung mengenai bahasa daerah, artikel ini juga mengulas tentang pentingnya penggunaan Bahasa Indonesia sebagai bahasa pengantar di sekolah.  Hal ini patut menjadi perhatian, karena selama ini banyak sekolah, terutama yang bertaraf internasional, yang menggunakan bahasa Inggris sebagai pengantar.  Akibatnya, lihat saja lulusan dari sekolah tersebut.  Banyak di antara mereka yang tidak dapat berbicara bahasa Indonesia dengan fasih.  Bahasa Inggris memang penting, namun alangkah aiknya jika kita tidak melupakan Bahasa Indonesia sebagai bahasa ibu kita.  Inilah satu-satunya bahasa yang dapat mempersatukan seluruh penduduk Indonesia dari sabang sampai merauke.

Dan, hmm.. ngomong-ngomong tentang Bahasa Indonesia, saya sebenarnya sempat berpikir mengenai prospek Bahasa Indonesia untuk bisa “go international” seperti bahasa mandarin.  Mengapa saya bisa berpikir demikian? Karea saya menganggap Bahasa Indonesia memiliki keunggulan dibandingkan dengan bahasa lainnya di dunia.  Pertama, huruf-huruf dalam bahasa indonesia dibaca sesuai dengan tulsannya, misalnya huruf “i” dibaca “i”, dan selalu dibaca “i” dalam keadaan apapun dan dimanapun i berada.  Beda dengan bahasa Inggris di mana huruf “i” kadng dibaca “ai”, kadang dibaca “i”, tergantung posisi dari huruf itu di mana.  keunggulan yang kedua dari bahasa Indonesia adalah, ia menggunakan aksara latin, yang oleh sebagian besar penduduk di dunia tidak perlu lagi dipelajari secara khusus.  Berbeda dengan bahasa jepang, misalnya,  yang menggunakan huruf kanji sehingga lebih “ribet” dalam mempelajarinya.  Selain itu, sepertinya Bahasa Indonesia terglong Bahasa yang mudah dipelajari.  Buktinya, pemain-pemain liga Indonesia yang berasal dari afrika rata-rata bisa menggunakan bahasa Indonesia dengan lancar, terbukti saat mereka diwawancarai media, hampir semua selalu menggunakan bahasa Indonesia. bukn bahasa Inggris.  Namun hal ini belum tentu benar, sebab dalam hal ini, terkadang dalam keadaan mendesak, seseorang mampu memahami sebuah bahasa hanya dalam waktu singkat. Contohnya saja, ketika Park Ji-Sung (sekarang pemain MU) bermain untuk sebuah klub Belanda, ia dapat menguasai bahasa belanda hanya dalam beberapa bulan saja.  Beda halnya dengan Luis Garcia (dulu pemain Liverpool)  yang kabarnya selama di Inggris sempat mengalami kesulitan dalam memahami bahasa setempat.  Yah, berarti pemahaman akan suatu bahasa juga tidak terlepas dari faktor yang ada pada masing-masing individu.  Dalam hal ini, ada dua kemungkinan kesimpulan.  Yang pertama, bahasa Indonesia memang mudah dipahami, dan yang kedu, pemain-pemain liga Indonesia dari Afrika rata-rata memiliki kemampuan memahami bahasa yang baik.

OK, itu dulu postingan saya untuk kali ini.  Maaf bila tulisan saya tidak fokus (tulisan ini dibuat mengalir saja tanpa kerangka karangan).  Maaf juga kalau dalam tulisan ini terdapat unsur ke-sok tahu-an saya…

di akhir postingan ini, saya lampirkan artikel yang menginspirasi saya untuk menulis…  Btw, gara-gara artikel ini, saya sempat berpikir untuk membuat blog dalam bahasa Sunda… Namun saya masih berpikir ulang mengingat kemampuan bahasa sunda saya yang masih pas-pasan,  dan juga mengingat segmen pembacanya mungkin akan sangat sedikit… Yah, mudah-mudahan suatu saat nanti bisa terlaksana…

Bahasa yang Tak Dipakai di Sekolah Akan Punah

Senin, 29 Maret 2010 | 03:19 WIB

Jakarta, Kompas – Dalam seabad ke depan, 50 persen dari bahasa yang saat ini ada di dunia, yang diperkirakan sebanyak 6.700 bahasa, diperkirakan akan punah. Kepunahan itu akan dipercepat jika suatu bahasa tidak dipergunakan sebagai pengantar dalam pendidikan di sekolah.

Perkiraan hilangnya separuh dari bahasa yang ada di dunia itu diperkirakan oleh Organisasi Pendidikan, Ilmu Pengetahuan, dan Kebudayaan Perserikatan Bangsa-Bangsa (UNESCO), seperti dipaparkan Dr Dendy Sugono dari Pusat Bahasa dalam diskusi menyikapi Undang-Undang (UU) Bahasa di Gedung Kompas Gramedia, Jakarta, Sabtu (27/3).

Diskusi yang diadakan Harian Kompas, Forum Bahasa Media Massa (FBMM), dan Inilah.com itu menyoroti keberadaan UU Nomor 24 Tahun 2009 tentang Bendera, Bahasa, dan Lambang Negara serta Lagu Kebangsaan yang berlaku sejak Juli 2009. Namun, sebagian besar pembicara dan peserta diskusi mengakui, tidak banyak yang mengetahui keberadaan UU itu. Narasumber lainnya adalah TD Asmadi (Ketua Umum FBMM), Hinca IP Panjaitan (praktisi hukum pers), dan Eko Endarmoko (praktisi bahasa).

Dendy, yang juga mantan Kepala Pusat Bahasa, menjelaskan, di Indonesia saat ini tercatat ada 746 bahasa, yang tersebar dari Aceh sampai Papua. Dari keseluruhan bahasa itu, ada yang kini penuturnya tinggal seorang, dan yang paling banyak bahasa Jawa yang dituturkan sekitar 75 juta orang.

”Bahasa yang penuturnya tinggal seorang itu tinggal menanti saat untuk punah. Jika tak diajarkan dalam pendidikan di sekolah, dipastikan bahasa itu akan punah. Karena itu, kita harus berusaha sekuat tenaga untuk tetap menggunakan bahasa Indonesia menjadi pengantar dalam pendidikan. Jika tidak, bahasa Indonesia pun bisa punah,” kata Dendy.

Hinca mengingatkan, yang kini dibutuhkan adalah menumbuhkan kebanggaan masyarakat untuk menggunakan bahasa Indonesia. Tanpa kebanggaan itu, bahasa Indonesia pun akan terkikis di masyarakat.

Apalagi, Hinca, Eko, dan Asmadi mengakui, UU No 24/2009 tak tersosialisasi dengan baik dan kurang mendorong tumbuhkan kebanggaan menggunakan bahasa Indonesia itu. (tra)

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s