Bambu vs Styrofoam

Ternyata hari besar keagamaan yang diperingati di bulan Februari lalu bukan hanya Imlek saja lho… Dua minggu lalu, umat Islam di seluruh Indonesia juga telah merayakan Hari kelahiran Nabi Muhammad SAW melalui peringatan Maulid Nabi (entah tahun yang keberapa hijriyah…).  Berbagai acara perayaan pun dilakukan di berbagai daerah.  Yang paling ramai, seperti biasanya  terjadi di daerah bagian timur puau Jawa, salah satunya yaitu upacara Grebeg Maulid di Yogyakarta.

Peringatan Grebeg Maulid di Yogyakarta (Foto: Danu Waskita/Trijaya; Sumber: http://news.okezone.com/read/2010/02/26/340/307391/pasukan-gajah-iringi-kirab-grebeg-maulud-yogya)

Meski tidak semeriah di yogyakarta, wilayah Bogor Selatan, yaitu Puncak dan sekitarnyapun memiliki berbagai tradisi dalam merayakan Maulid Nabi.  Biasanya warga setempat memperigati Maulid dengan cara mengadakan perayaan di mesjid-mesjid dan membacakan kisah hidup Rasulullah yang terdapat dalam Maulud Azab, misalnya.  Pada akhir acara, para jemaah biasanya diberi “berkat”, yaitu berupa makanan berat yang disiapkan oleh pengelola mesjid atau masyarakat sekitar.

Yang menarik perhatian saya yaitu, di daerah tempat tinggal saya, tradisi mengemas makanan dalam kemasan bambu tradisional, yang biasa disebut bongsang masih sangat kuat.  Meski berbagai kemasan makanan modern, seperti dus, kap plastik, dan styriofoam sudah lama bermunculan, namun dalam peringatan maulid, para warga enggan berpindah ke kemasan modern tersebut.  Padahal, harga bongsang sedikit lebih mahal daripada berbgai kemasan modern tersebut.

wuih, susah ya dapat gambar bongsang... Tapi, yah seperti inilah bentuknya (Sumber: http://nasutelur.blogspot.com/2009/07/profil-ud-nasu.html)

Selain bongsang, beberapa daerah juga biasa menggunaka besek sebagai kemasan makanan pada peringatan Maulid.  Besek biasanya digunakan di daerah Cianjur dan sekitarnya.  Sayangnya, beberapa tahun terakhir ini, masyarakat lebih menyukai untuk mengemas makanan dengan menggunakan styriofoam yang harganya memang lebih ekonomis, namun kurang ramah lingkungan.

Besek juga sering digunakan sebagai kemasan makanan pada peringatan Maulid (sumber: http://indonetwork.co.id/natural_crafttco/595104/besek.htm)

Budaya menggunakan kemasan-kemasan bambu tradisional tampaknya memang sudah mulai menghilang.  Misalnya saja di sebuah mesjid di dekat Pasar Cisarua mulai menggunakan styriofoam yang mungkin memang lebih praktis dalam penggunaannya.

Styrofoam

saat ini masyarakat lebih menyukai styriofoam sebagai kemasan makanan

Saat masyarakat dunia mulai beralih ke kemasan organik dan mulai mengurangi penggunaan plastik dan styrofoam , ironisnya masyarakat kita, yang sebelumnya begitu “akrab” dengan kemasan bambu tradisional, justru malah beralih ke kemasan modern yang tidak ramah lingkungan.  Oleh karena itu, berbagai bentuk kebudayaan yang dapat melestarikan penggunaan kemasan trasisional patut untuk dipertahankan…

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s