Banjir Bogor, Salah Siapa?

“Apa masalah terbesar yang dihadapi saat perayaan Imlek?”

Pertanyaan itu dikemukakan oleh salah seorang dosen saya pada mata kuliah sistem informasi kesehatan, Rabu lalu.

Mau tahu jawaban dari pertanyaan di atas? Kita tanya Galileo…

Imlek di Kota Hujan

Inilah suasana perayaan Imlek yang terjadi di kawasan Jalan Suryakencana, 'Kota Hujan', Bogor (Sumber: http://armelo.multiply.com/photos/album/37/Cap_Go_Meh_2009_Pesta_Rakyat)

Ternyata seperti yang sudah saya duga, sebagian besar mahasiswa di kelas menjawab bahwa hujan adalah masalah terbesar pada saat perayaan imlek berlangsung, lepas dari kekacauan ataupun gangguan lalu lintas yang mungkin terjadi pada saat pawai.

Entah hanya mitos, kebetulan, atau memang fakta, puncak musim hujan tiap tahunnya memang biasa terjadi bertepatan dengan rangkaian perayaan Imlek.  Dan konon, menurut tradisi China sendiri, hujan merupakan lambang keberkahan.  Jadi, jika perayaan Imlek tidak diiringi dengan hujan, menurut kepercayaan mereka, tahun ini tidak akan diliputi dengan berkah.

Sebagai seseorang yang telah menetap di “Kota Hujan” selama lebih dari satu dasawarsa, saya tentunya telah terbiasa dengan hujan yang selalu turun lebih deras pada rangkaian peringatan Imlek.  Jika ada gangguan yang dirasakan akibat hujan, maka itu tidak lebih dari sepatu sekolah yang basah, jemuran tidak kering, atau flu dan batuk yang dipicu oleh hawa yang dingin.  Tidak pernah penduduk Bogor mengalami banjir selutut seperti yang dirasakan oleh warga Jakarta bila musim penghujan tiba.  Kasus tanah longsor akibat erosi oleh air hujan pun terbilang jarang, kecuali beberapa tahun yang lalu ketika terjadi longsor di sisi gunung yang telah banyak didirikan villa-villa dan padang golf.

Namun, siapa sangka, bencana banjir dan tanah longsor yang mengerikan itu kini terjadi begitu dekat dengan lingkungan tempat tinggal saya.

Banjir di Kampung Burujul


Kabar mengenai banjir di Kampung Burujul, Cisarua ini pertama kali saya dengar melalui Radio Elshinta.  Banjir yang terjadi beberapa minggu lalu ini, jika saya tidak salah, menewaskan dua orang dan menghancurkan sejumlah rumah di kampung tersebut.  Bahkan, menurut sumber yang dapat dipercaya, yaitu guru mengaji saya, banyak  korban yang rumahnya tidak bersisa sama sekali, harta yang tertinggal hanyalah pakaian yang melekat di tubuhnya.

Bagaimana banjir bisa terjadi di kota yang terletak di dataran tinggi seperti Kampung Burujul?

Konon, Kampung yang terletak di Bogor Selatan ini tidak mempunyai drainase yang baik.  Tidak ada selokan besar di kampung ini.  Bahkan, saluran air yang ada pun tidak lagi berfungsi dengan baik karena di atas saluran air tersebut telah banyak dibangun rumah-rumah warga.  Hal itu menyebaban air hujan tidak dapat mengalir dengan baik .

Longsor di Desa Citeko, Situ Gintung Part II

Longsor Cisarua

Ternyata longsor di musim hujan ini tidak hanya terjadi di Ciwidey saja.

Kurang lebih satu kilometer dari tempat tinggal saya, yaitu di desa Citeko, Cisarua, pada hari yang sama saat terjadi banjir di Burujul, bencana tanah longsor pun terjadi di Desa ini.  Beruntung, tidak ada korban jiwa dalam peristiwa ini. Namun sejumlah rumah warga, termasuk beberapa villa,  mengalami kerusakan ringan hingga berat.

Berbeda dengan banjir di Burujul yang disebabkan oleh buruknya sistem drainase, longsor di Citeko ini disebabkan oleh konisi alam yang “miskin” pepohonan karena lahannya sudah dialihfungsikan menjadi sawah, kebun, dan pemukiman warga.  Selain itu, longsor ini juga dipicu oleh proyek pembangunan danau wisata  sedalam 5-6 meter yang berada di bagian puncak gunung.

Longsor CitekoPembangunan danau ini tampaknya tidak memperhatikan  kondisi alam sekitar di mana tanah tempat pondasi dari danau itu didirikan merupakan tanah yang gembur (karena daerah itu merupakan daerah persawahan dan perkebunan).  Hal ini membuat pondasi danau semakin menekan tanah ke bawah.  Ketika hujan deras terjadi, kurangnya pohon-pohon untuk penyerapan air menyebabkan erosi terjadi dan berakibat pada longsornya tanah.

Warga korban longsor di Citeko cukup “beruntung” karena mendapatkan ganti rugi dari pihak bertanggung jawab atas proyek pembangunan danau.  Besar Ganti rugi yang diterima berkisar dari 3,5 juta hingga 15 juta rupiah, tergantung dari tingkat kerusakan bangunan yang dihuni oleh masing-masing warga.

Namun, jangan mengira ganti rugi ini didapat dengan cuma-cuma.  Pada mulanya, perusahaan yang membangun danau di Desa Citeko menolak untuk bertanggung jawab atas kerugian yang diderita warga.  Melihat sikap tersebut, sebagian warga terpaksa mengambil jalan kekerasan, yaitu dengan “menyerang” tempat pembangunan danau tersebut.

Mungkin warga Citeko bisa mengambil hikmah dari bencana ini.  Jika longsor tidak terjadi dan pembangunan danau tetap dirampungkan, besar kemungkinan danau ini akan menjadi “Situ Gintung Babak Kedua”, dan dampak bencana ini tentunya akan lebih luas, mungkin hingga ke Pasar Cisarua.

Yang membuat saya heran adalah, pembangunan danau ini ternyata mendapatkan Izin Mendirikan Bangunan.  Hmm, nampaknya ini merupakan pekerjaan baru bagi Satgas Penanggulangan Mafia Hukum, karena sepertinya mafia-mafia tanah mulai beraksi di Kabupaten Bogor.

Dan fakta bahwa Bogor,  kota yang biasanya hanya “mengirim” air hujan ke Jakarta, kini juga terkena banjir, seharusnya menjadi bahan introspeksi bagi kita akan dahsyatnya dampak dari pengrusakan alam, khususnya alih fungsi lahan, yang dilakukan oleh manusia.  Kalau Bogor saja banjir, bagaimana dengan Jakarta?

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s