Antara UN, Bimbel, dan Sekolah (3)

Pertandingan hidup-mati. Sebuah istilah yang sering digunakan dalam dunia olah raga, terutama sepak bola, untuk menggambarkan sebuah tim yang harus mati-matian berjuang untuk memenangkan sebuah pertandingan guna melaju ke babak berikutnya. Jika tim itu kalah –atau hanya seri, misalnya– tim tersebut akan terdepak dari kejuaraan yang diikutinya. Situasi ini pernah dialami oleh Liverpool pada pertandingan terakhir babak penyisihan grup Liga Champions 2005 melawan klub Yunani, Olympiakos atau Panatinaikos… sayang sekali saya lupa namanya. Tapi yang peting Liverpool-lah juara LC saat itu… ^_^V

Nah, situasi “hidup-mati” inilah yang kini dihadapi oleh siswa-siswi SMA di seluruh Indonesia yang bersiap untuk “bertarung” dalam Ujian Nasional 2010. Oleh karena itu, persiapan yang dilakukan pun tidak tanggung-tanggung. Jam belajar reguler di sekolah saja tidak cukup. Sebagian besar sekolah selama beberapa tahun terakhir secara rutin menerapkan jam belajar tambahan untuk siswa kelas XII. Jika biasanya siswa selesai belajar pada pukul 12.00, kini jam belajar tersebut ditambah dengan bimbingan tambahan dari guru yang mata pelajarannya di-UN-kan hingga pukul 17.00.

Bimbel Jelang UN

Jelang UN, siswa disibukkan dengan berbagai kegiatan bimbingan belajar, termasuk yang diadakan di sekolahnya

Beberapa siswa bahkan merasa tidak cukup jika hanya mengikuti pelajaran tambahan di sekolah saja. Mereka lalu mengikuti kegiatan bimbingan belajar yang diselenggarakan oleh beberapa lembaga, semisal Primagama, Ganesha Operation, Nurul Fikri, dll. Pilihan lain yaitu dengan mendatangkan guru bimbel privat ke rumah sang siswa, meski biaya yang diperlukan tentunya lebih besar.

Meski menghadapi situasi yang sama 2 tahun lalu, ketika saya duduk di kelas XII SMA, persiapan saya hanya terbatas pada kegiatan belajar tambahan yang dilaksanakan oleh pihak sekolah saja. Tak terpikir oleh saya untuk mengikuti kegiatan bimbel di luar, karena selain pertimbangan biaya, saya khawatir tidk apat membagi waktu dengan baik, mengingat jadwal sekolah yang sangat padat. selain itu, saya juga merasa bimbingan yang diberikan oleh guru saya sudah cukup, asalkan saya juga giat belajar, berlatih, dan berdoa. Alhamdulillah, meski dengan persiapan yang minim, saya lulus UN juga…

Selain di sekolah, bimbingan belajar bagi para siswa juga diadakan oleh berbagai lembaga bimbel

Soal menjamurnya bimbel yang dilakukan oleh berbagai lembaga ini pernah menuai kritikan dari guru matematika SMP saya, Pak Jojoh. Menurut beliau, para pengusaha dan pengajar bimbel itu ibaratnya “mulung muntah” (memungut muntah). Alasannya, siswa-siswa yang belajar di lembaga bimbel pada umumnya sudah pintar karena telah mendapat bimbingan yang baik dari gurunya. Hal itu akan memudahkan para pengajar bimbel yang membimbing mereka. Ketika siswa lembaga bimbel tersebut lulus UN atau diterima di sekolah/PTN favorit, lembaga bimbel-lah yang mengklaim keberhasilan mereka, bukan guru-guru yang selama 3 tahun telah membimbing para siswa tersebut. Selain itu lembaga bimbel juga dinilai tidak mencerdaskan, karena hanya menjejali para siswa dengan “cara-cara cepat” untuk menghadapi ujian. Menurut Pak Jojoh, meski boleh saja digunakan pada saat ujian, seharusnya cara itu tidak diajarkan pada siswa, karena dengan itu siswa tidak akan mengerti esensi materi yang sebenarya dan itu membuat siswa hanya akan berorientasi pada nilai ujian, bukan kompetensi.

Pada saat itu, saya setuju saja dengan pernyataan Pak Jojoh, apalagi sebagian besar guru di SMP saya merupakan guru yang berkualitas dan berdedikasi sehingga wajar apabila sebagian besar siswa di SMP saya merasa tidak perlu ikut bimbel.

Namun ternyata tidak semua guru memiliki kualitas seperti itu…

Saya teringat paa pernyataan dosen saya, Pak Tris, dua minggu lalu. Ketika itu, Pak Tris membagi pengalamannya tentang anaknya yang menuntut ilmu di sebuah sekolah favorit di Kota Depok.

Menurut beliau, guru yang mengajar di sekolah favorit itu tidak perlu pintar, karena siswanya sudah pintar-pintar. Contohnya guru bahasa sunda di sekolah tersebut yang ternyata tidak mengerti Bahasa Sunda, atau guru Bahasa Inggris yang ternyata Bahasa Inggrisnya malah salah melulu…

Jadi, kata beliau, anak yang sekolah di SMP/SMA favorit itu pintar bukan karena guru yang membimbing mereka, melainkan karena guru di lembaga bimbel yang memberi mereka pelajaran tambahan. Hal ini tampaknya terbalik dengan pernyataan Pak Jojoh tadi.

Hmm, menurut saya hal yang diucapkan Pak Tris benar juga. Pasalnya, dulu ketika SMP saya menerapkan sistem kelas unggulan, guru-guru yang ditempatkan di kelas unggulan itu justru tidak sesuai dengan kapabilitas mereka. Misalnya, Guru sejarah disuruh mengajar kesenian; guru biologi malah mengajar fisika. Tidak jarang terjadi siswa terlihat lebih pandai dari gurunya. Tentunya ini menimbulkan dampak negatif, yaitu merosotnya citra diri guru di mata para siswa, sehingga rasa hormat siswa terhadap guru pun menurun. Ini berbahaya karena dapat membuat siswa menjadi sombong..

Sementara itu, di sebuah SMP swasta di daerah Cipayung, Bogor, dengan jumlah siswa yang berjumlah kurang dari 30 orang di setiap tingkatnya, dan dengan sarana yang pas-pasan, justru memiliki staf pengajar yang lebih berkualitas dan berdedikasi, meski dibayar dengan upah yang pas-pasan. Buktinya, staf pengajar itu seringkali ditarik oleh sekolah-sekolah favorit untuk menjadi tenaga pengajar kontrak mereka. Tidak jarang, sang guru, setelah mengajar di sekolah swasta tersebut, malah mendapatkan pekerjaan yang jauh lebih baik dengan gaji yang lebih tinggi.

Terkadang guru yang bertugas di sekolah dengan fasilitas seadanya justru lebih berdedikasi dari guru yang mengajar di sekolah dengan sarana yang lebih memadai

Yah, saudara-saudara, inilah ironi di dunia pendidikan kita. Di tengah upaya perbaikan kesejahteraan guru, Upah tinggi yang diberikan oleh pemerintah malah diberikan kepada guru sekolah negeri yang tidak amanah. Sementara guru-guru kontrak dan guru sekolah swasta yang justru lebih berdedikasi malah terabaikan nasibnya. Kebijakan sekolah gratis yang hanya diberlakukan untuk sekolah negeri pun turut berkontribusi dalam “membunuh” sekolah swasta kecil yang selama ini memberi pendidikan pada anak bangsa tanpa pamrih, tanpa peduli apakah si siswa sudah membayar SPP atau belum. Berbeda dengan sekolah-sekolah negeri favorit di Jakarta dengan uang pangkal jutaan rupiah, yang bahkan tidak akan mengembalikan uang pangkal tersebut jika sang calon siswa tidak jadi bersekolan di sekolah tersebut…

Ini semua telah terjadi sebelum UU BHP disahkan.

Dan bila UU BHP jadi diimplementasikan…

mau jadi apa pendidikan Indonesia??

2 Comments

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s