Antara UN, Sekolah, dan Bimbel (1)

Masih ingat dengan Gerakan 28 Januari 2009?  Gerakan yang diisukan akan melakukan pemakzulan terhadap Presiden dan Wapres itu ternyata tidak hanya mengangkat masalah Bank Century saja.  dalam aksinya, beberapa elemen yang tergabung dalam gerakan itu juga melakukan tuntutan mengenai isu pendidikan, di antaranya menolak Undang-undang BHP dan menolak Ujian Nasional sebagai penentu kelulusan siswa.

aksi pelajar menolak UN

Aksi penolakan terhadap Ujian Nasional marak dilakukan di berbagai daerah

Mendengar isu Ujian Nasional ini membuat ingatan saya kembali ke tahun 2007-2008, yaitu ketika saya uduk di kelas 3 SMU.  waktu itu, saya juga sedang disibukkan dengan berbagai persiapan menuju UN.  Hm, persiapan saya saat itu bisa dibilang minim.  selain mengikuti bimbel (pelajaran tambahan) di sekolah, saya tidak melakukan persiapan lain.  berbeda dengan ketika UN SMP di mana saya sempat mengikuti les privat meski hanya untuk pelajaran matematika saja.  Untuk bimbel di luar pun, saya tidak mengikutinya, mungkin karena sebagian besar teman sekelas saya juga tidak mengikuti bimbel.

dengan persiapan yang sangat minim itu, walhasil nilai try out-1 saya pun jadi hancur pisann…  yang saya ingat, nilai matematika waktu itu 4,00; fisika 3 koma sekian, yang paling bagus bahasa Indonesia, kalau nggak salah sekitar 7 nilainya.

Dan yang mengejutkan, ternyata yang nilai TO-1nya hancur bukan cuma saya.  ternyata satu SMA, baik IPA maupun IPS tidak ada yang lulus TO-1… Hal itu membuat para siswa dan guru jadi stress berat.  untungnya pada TO-TO berikutnya nilai kami berhasil mengalami peningkatan.  Yang paling bagus di TO-2, nilai saya di ata 8 semua. He-he… bukan bermaksud pamer ya..

Tapi yang mengherankan adalah, kenapa kok sejak saya SMP, nilai TO pasti lebih besar dari nilai UN yang sebenarnya ya?

Kalau menurut guru Geografi SMP saya, performace kita saat Try Out hingga Ujian Nasional menyarupai kurva distribusi normal.

Kalau menurut saya sih, mengapa nilai UN saya bisa menurun, karena saya cenderung gugup saat mengerjakan soal UN.  maklum, UN saat itu sudah bagaikan hidup-mati bagi para siswa.  berbeda dengan kondisi ketika mengerjakan soal TO di mana saat itu saya malah nyantai banget..

mungkin karena sikap santai itulah saya bisa masuk FKM UI meski tanpa bimbel.. huehe.. lagi-lagi tanpa bermaksud menyombongkan diri ya…

Ca yo deh untuk anak-anak kelas 3 SMA, apalagi dengar-dengar UN sekarang dimajukan ya?!  Yah, mudah-mudahan ini UN terakhir di sepanjang sejarah Indonesia karena kabarnya pemerintah akan mengevaluasi penyelenggaraan UN dan kemungkinan UN berikutnya akan dipertimbangkan untuk diganti kembali dengan sistem Ebtanas, di mana seorang siswa data lulus meskipun mendapat nilai Fisika 1,00!

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s