Hibernasi dan Acara TV

Setelah kakak-kakak dan kedua ponakanku pulang ke Bandung, rumah jadi terasa sepi banget.  Terlebih lagi setelah kakakku dapat pekerjaan baru.  Otomatis sebelum Bapak dan teteh pulang, saya Cuma berdua dengan mamah di rumah.  Pagi sampai malem kebanyakan kerjaan saya Cuma nonton TV doang.  Ya, pagi2 nonton Pansus Century.  Buat saya, menonton Pansus Century seperti menonton persidangan.  Ada fraksi yang berperan sebagai “jaksa”, tegas dalam memberi pertanyaan terhadap saksi, dan kadang2 malah menganggap saksi sebagai terdakwa.  Ada fraksi yang berperan sebagai “pengacara”, melindungi dan membela saksi-saksi. Tapi ada juga sih yang, sepertinya, netral, teliti dalam mengajukan pertanyaan.  Ada juga salah satu anggota fraksi yang ngakunya menjunjung tinggi etika, namun nyatanya dia sendiri tidak punya etika.  Bila ada anggota fraksi lain yang menurutnya melanggar etika akan langsung dia interupsi. Tetapi, dia sendiri  ternyata hanya bisa mengeluarkan pernyataan-pernyataan yang bernada provokasi dan sejauh ini sudah mengeluarkan kata-kata kasar seperti: B******, B*****, dsb.  Pantas saja apabila salah satu nasabah Bank Century tidak dapat menahan amarahnya dalam ruang Pansus karena menganggap kerja Pansus tidak becus.

Alasan saya menonton Rapat Pansus Century adalah karena pada awalnya saya tidak terlalu mengerti tentang kasus Bank Century.  Namun, lama kelamaan setelah agak mengerti tentang kasus tersebut, entah mengapa saya merasa menonton rapat Pansus membuat saya menjadi makin bingung, masih fokuskah penyelidikan kasus ini?

Siangnya biasanya saya menonton acara2 di Trans7.  Ga nyangka ternyata Trans7 punya acara2 menarik dan edukatif seperti Jalan Sesama, Dunia Air, dan Asal-Usul.  Dua jempol deh..

Sorenya, huehe.. ni dia… Saya lagi suka nonton film serial Korea di indosiar, Judulnya The Great Queen Seondok.  Awalnya Cuma ikut2an kakak yang suka nonton, ternyata ceritanya bagus juga.  Salut deh buat paar pembuat film serial ini yang menunjukkan bahwa ternyata bukan serial “komersil” seperti Boys Before Flowers saja yang laku dijual.  Serial dengan tema sejarah juga bisa dikemas dengan cerita yang menarik dan berkualitas, meskipun nantinya, akan berakhir sad ending, huhu…  saya sendiri nggak terlalu suka dengan drama2 sejenis BBF…

Malam harinya.. nonton berita pastinya.  Entah mengapa urusan berita ini, saya cenderung memilih TV-M daripada TV-1.  Entah benar atau tidak, saya merasa TV-1 berusaha menyaingi TV-M dalam menyampaikan berita, misalnya saja ketika TV-M menayangkan salah seorang reporter terbaiknya yang mewawancarai Anggodo di penjara, keesokan harinya TV-1 langsung melakukan liputan mengenai kehidupan Anggodo di penjara.  Malam harinya, liputan tersebut langsung disiarkan lengkap dengan Anggodo yang sedang main ping-pong.  Memangnya Anggodo bintang film?

Yah, mungkin hal tersebut wajar-wajar saja mengingat tayangan berita kini telah menjadi primadona, menggeser sinetron dan reality show.  Tidak apa-apa selama berita yang ditayangkan tidak kehilangan substansinya.  Namun, jangan sampai tayangan berita menjadi sekedar hiburan belaka.

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s