Tan de Bakker = Tan Ek Tjoan? =)

Pernah baca Madre-nya Dee Lestari? Di sana ada sebuah cerita mengenai toko roti terkenal di masa lalu, namanya Tan de Bakker.  Toko roti tersebut tidak mampu bersaing dengan bakery modern zaman sekarang, lantaran pola pemasarannya yang masih kuno.  Padahal, Tan de Bakker memiliki Madre, adonan biang roti yang sudah berusia puluhan tahun dan membuat cita rasa roti Tan de Bakker berbeda, dan bahkan konon lebih lezat dari roti buatan Eropa :)

Segitu dulu sinopsisnya :) .  Saya hanya berpikir, apakah Tan de Bakker ini terinspirasi dari Bakery Tan Ek Tjoan di Bogor?

Gambar diambil dari DetikFood

Toko Roti Tan Ek Tjoan terletak di Sukasari, Bogor, tepatnya di depan Ekalokasari Plaza.  Saking terkenalnya dulu, ibu saya menyebut daeranh lampu merah dekat Ekalokasari sekarang sebagai “perempatan Tan Ek Tjoan”.

Roti Gambang, Salah satu produk Tan Ek Tjoan (Sumber: blogemasadi.blogspot.com)

Dulu juga ada toko roti lain yang terkenal di Bogor, namanya Toko Roti Singapore.  Sebelum ada Sari Roti dan merk-merk roti lainnya, biasanya ayahs aya selalu membeli roti merk Singapore.  Menurut saya, memang lebih enak dari Sari Roti :) .  Namun, sekarang memang lebih mudah menemukan Sari Roti, atau MrBread :P dibandingkan roti Singapore.  Menemukan gambar roti sinagpore di internet saja susah :D

Tapi, kedua bakery tersebut tampaknya memiliki nasib yang mirip (meskipun tak se-mengenaskan) Tan de Bakker.  Pasalnya, mereka kini kurang begitu terkenal dan diminati jika dibandingkan dengan bakery modern seperti Holland Bakery, BreadTalk, atau bahkan Roti Unyil :P .

Yah, kalau kegemaran saya sih bakery dapur kuring saja, alias kue dan roti buatan ibu sendiri :D

Tersinggung itu Relatif, Bullying itu Absolut

Iya, saya juga agak bingung sih dengan judul di atas :P

Saya cuma sedang agak bingung dengan definisi Bullying.

Dulu zaman SMA/SMP saya pernah mendengar di radio, dari seseorang yang katanya dari gerakan anti kekerasan apa gitu (lupa namanya), katanya bullying itu relatif.  Kalau seseorang mengatakan sesuatu, yang tanpa sengaja melukai perasaan orang lain, itu bisa dibilang bullying.  Meskipun ga sengaja lho…

Di satu sisi, itu nggak fair sih.  Kalau melakukan bullying ada undang-undangnya, masa kita harus dihukum atas sesuatu yang tidak sengaja kita lakukan?

Tapi baru saja saya membuka Wikipedia, di sana, definisi bullying adalah:

Bullying is an act of repeated aggressive behavior in order to intentionally hurt another person, physically or mentally. Bullying is characterized by an individual behaving in a certain way to gain power over another person (Besag, V. E. (1989) Bullies and Victims in Schools. Milton Keynes, England: Open University Press)

Perhatikan kata kuncinya: intentionally. Disengaja.  Bullying terjadi ketika si pelaku sengaja mengatakan, atau melakukan sesuatu untuk melukai fisik/mental orang lain.

Begitu pula dengan definisi dari KNPA (Komisi Nasional Perlindungan Anak):

Bullying adalah : kekerasan fisik dan psikologis berjangka panjang yang dilakukan seseorang atau kelompok terhadap seseorang yang tidak mampu mempertahankan diri dalam situasi dimana ada hasrat untuk melukai atau menakuti orang atau membuat orang tertekan, trauma / depresi dan tidak berdaya (via Kompasiana)

Definisi di atas juga menyatakan bahwa, bullying terjadi jika ada hasrat untuk melukai orang.  Maka, jika kita mengatakan sesuatu tanpa ada hasrat untuk melukai orang tersebut, itu bukan bullying.

Sayangnya, tidak semua orang setuju hal itu :)

Ada yang beranggapan bullying itu relatif.  Hanya menilai dari perspektif si korban yang merasa tersinggung, tanpa menilai bahwa si pelaku sebenarnya tidak bermaksud untuk menghina.  Kata-kata yang digunakan si pelaku sebenarnya sama sekali bukan kata-kata hinaan.  Bahkan, dalam kebudayaan sang pelaku, kata-kata tersebut digunakan untuk menunjukkan kasih sayang.

Dan jadilah, si tersangka bullying itu, dihukum atas hal yang tidak sengaja dilakukannya :(

Sumber gambar: whoateallthepies.tv

Tentunya, bila merasa di-bully, sang korban patut mengadu secepatnya kepada “pihak berwajib”.  Sayangnya saat itu sang korban malah mengadu ke media terlebih dahulu (sebenarnya niat melapor atau cuma mau bikin sensasi aja sih?).

Selain itu, bila pihak yang diduga pelaku sudah menyangkal, meluruskan, bahkan sudah menawarkan jalan damai, masa mau tetap berlarut-larut urusannya?

Apalagi setelah si “korban” pun menyatakan kalau dia yakin bahwa si terduga “pelaku” bukan orang yang suka mem-bully

Dan ada kontroversi bahwa sebenarnya si korban-lah yang terlebih dahulu (dengan sengaja) menghina si pelaku.

Dan lagi si pelaku telah memminta maaf bila ada pihak yang (tanpa sengaja) tersinggung atas perkataannya?

Apakah hukuman mahaberat masih harus dijatuhkan??

This #77th wordpress post is dedicated to LFC #7, Luis Suarez.

Hanya untuk meluruskan pandangan orang-orang yang mengatai Luis rasis, padahal tidak mengikuti berita mengenai kasus ini sepenuhnya :)

Seperti kata Wimar Witoelar, do not criticize what you don’t understand :)

YNWA

Related Articles:

Statement from Luis Suarez

Liverpool FC Statement

All the reaction from Liverpool and Manchester United after Luis Suarez is banned for racially abusing Patrice Evra

Transcript of Kenny Dalglish’s press conference about Luis Suárez

Hypocrisy: the English disease

‘Film paling laku di dunia’ kini bangkrut

Kodak, Film Paling Laku di Dunia (Tahun 90-an)

Sejak awal tahun 2000-an, orang sangat mudah dalam mengabadikan momen-momen yang mereka ikuti.  Bagaimana tidak, hampir setiap orang memiliki ponsel berkamera, atau kamera digital yang mudah dibawa ke mana-mana.

Namun, pada tahun 80-90an, untuk berfoto tidak semudah sekarang.  Dulu, untuk mengambil foto, kita menggunakan kamera film, atau kamera analog, atau kamera yang ada klise-nya.

Gambar diambil dari wayan-keyza.blogspot.com

Dulu saya punya kamera analog, mereknya Fujifilm. Hehehe. Masih ada sampai sekarang :)

Jadi sebelum mengambil foto, kita harus membeli klise dulu (yang kalo ga salah cuma bisa buat 30-an kali foto, jadi kadang-kadang pas lagi asyik foto-foto, eh klise-nya habis -___-).  Setelah berfoto, kita harus men-cuci klise tersebut.  Waktu untuk mencetak foto biasanya sampai 3 hari. Tidak seperti sekarang yang kalau ingin mencetak foto, tinggal print saja. Karena pakai kamera digital.

Suka-duka lain dalam menggunakan kamera film adalah, kalau berfoto sebaiknya jangan di tempat yang terang, atau dekat seumber cahaya yang terang, karena biasanya foto tersebut akan “kebakar” -___-.  Kadang hal tersebut juga bisa kita gunakan untuk mem-bully orang, misalnya: “heh kamu jangan ikutan foto! Nanti kalau ada kamunya kebakar lagi” :mrgreen:

Namun kini, setelah kamera analog berganti dengan kamera digital yang menjamur, dan klise barganti dengan memory card, dan proses cuci-cetak foto secara manual berganti dengan printer, film paling laku di dunia, seperti kodak sekalipun, menyatakan bangkrut.

Iklan Kodak Tahun 1915 (Sumber gambar dari http://www.washingtonpost.com)

Terkenal dan sukses di masa lalu belum tentu akan membuat suatu produk terus sukses.  Kodak menjadi salah satu buktinya.  Jika kita tak mampu menyesuaikan diri dengan zaman, kita akan tertinggal dari pesaing baru yang bermunculan.  Yang sudah pernah membaca Madre-nya Dee Lestari pasti tahu tentang “Tan De Bakker” kan? Yup, itu adalah toko roti terkenal di zaman dulu, yang tak bisa bersaing dengan bakery modern di masa kini karena sistem pemasarannya masih ‘kuno’.

Jangankan perusahaan, artis yang sudah berlabel ‘diva’ sekalipun suatu saat akan meredup sinarnya #tsaahhh…

Tapi ya, sekarang ini demand akan fotografi (baca: Kamera SLR) justru sedang meningkat.  Apakah ini disebabkan oleh mudahnya akses terhadap fotografi di era digital ini? :)

Kamera SLR yang lagi ngetrend (Sumber: dikabrandals.blogspot.com)

Saya sih nggak begitu berminat.  Ribet euy bawa-bawa kamera SLR. Berat. Paling cuma buat foto-foto gitu doang. Secara saya nggak ngerti teknik-teknik fotografi :mrgreen: . Tapi kalo dikasih gratis ya mau :lol:

Polling: Pernah Ganti Ponsel Berapa Kali?

Manusia modern yang memiliki kesibukan dan mobilitas tinggi mungkin memiliki empat kebutuhan primer: sandang, pangan, papan, dan ponsel (telepon seluler).  Mengapa ponsel? Coba saja jika ponsel kita tertinggal sehari saja, pasti langsung kelimpungan.  Kita sulit untuk menghubungi orang, dan orang pun sulit untuk menghubungi kita.  Apalagi kalau kita orangnya super sibuk :D .

Sumber: ATSI via Antara

Yah, mungkin terlalu lebay juga ya kalau mengatakan ponsel masuk ke dalam kebutuhan primer.  Tapi, statistik menunjukkan bahwa sebagian besar penduduk Indonesia telah menggunakan ponsel.  Menurut data ATSI (Asosiasi Telekomunikasi Seluler Indonesia) seperti dikutip dari Antara, per Juni 2010, jumlah pengguna seluler di Indonesia telah mencapai 180 juta nomor atau sekitar 80% dari total penduduk Indonesia (nggak tahu deh kalau ada orang yang punya nomor HP dobel gitu dihitung atau nggak).

Kira-kira, sejak kapan ya ponsel menjadi sangat berpengaruh dalam kehidupan kita? Saya sendiri baru memiliki ponsel saat kelas 2 SMA.  Alasan memiliki ponsel waktu itu, sebagian besar karena tekanan pergaulan (98% teman sekelas saya waktu itu punya hape *statistik ngaco*) dan kebetulan kakak saya memiliki ponsel baru sehingga ponsel yang lama dihibahkan ke saya :D .

Dan ponsel pertama saya adalah… Nokia 3315

Nokia 3315Cukup jadul mengigat ponsel ini merupakan keluaran tahun 2002.  Ponsel ini masih bertahan dengan tampilan “hitam-putih” dan hanya menyediakan fitur SMS, Telepon, dan game (itupun nggak bisa dipake telepon karena baterainya sudah nge-drop, sehingga kalau kita menelepon orang, 5 detik kemudian ponsel tersebut mati).  Meskipun demikian, ponsel ini memiliki kelebihan yaitu dapat menjadi alat bantu pertahanan diri (ya lumayanlah buat ngelempar maling, dilempar juga nggak sayang kan, karena nggak mahal :lol: ).  Selain itu, jika Anda menggunakan ponsel ini di kereta, dipastikan aman karena nggak akan ada yang mencopet atau menjambretnya.

Hanya sebentar saya memiliki si Nokia 3315, karena pada waktu kelas 3 SMA, saya menggunakan ponsel ini…

Soner J110i

Sony Ericsson J110 i,  pemberian dari kakak saya yang lainnya.  Baru kok, bukan bekas :D . Sama aja sih, cuma bisa menelepon dan sms saja, tapi setidaknya tampilannya sudah berwarna :D .  Saya menggunakan ponsel ini hingga tahun kedua kuliah.  Agak berat memisahkan diri dari ponsel ini.  Selain karena nyaman digunakan (nyaman apaan dit?) ponsel ini juga pernah hampir hilang di jalan menuju stasiun Bogor.  Ponsel ini kini telah dihibahkan kepada salah seorang kerabat.

Dan, sejak tahun ke-2 kuliah hingga sekarang, saya menggunakan ponsel ini…

Soner Naite

Sony Ericsson Naite.  Dibeli dengan sebagian ‘sumbangan’ dari kakak saya dan sebagian uang tabungan saya :D .  Mungkin karena gaptek atau nggak terbiasa menggunakan benda canggih sebelumnya, jadi pada saat-saat pertama menggunakan ponsel ini, saya merasa ponsel ini canggiiiihh… banget.  Bisa photoblogging (sayangnya di blogspot, bukan di wordpress), ada gps-nya, bisa video-call, bisa jadi remote control, email, internet browser, facebook, twitter, dan berbagai aplikasi lainnya.

Tapi, tetap saja aplikasi yang canggih itu jarang sekali saya pakai (yang paling sering saya pakai mungkin hanya email dan internet browser).  Mungkin karena belum terlalu membutuhkan fitur-fitur tersebut.  Dan lagi, paket pulsa yang paling sering saya gunakan bukanlah pulsa reguler (yang bisa buat telepon, sms, dan internetan), melainkan pulsa sms.

Mungkin itu juga yang membuat saya tidak begitu tertarik untuk menggunakan Blackberry atau ponsel Android yang sedang menjamur.  Karena, secanggih apapun ponsel yang saya gunakan, paling nantinya cuma dipakai untuk sms doang…

Dear public figures, please stop promoting cigarettes

Saya mendapatkan video berikut ini dari milis fakultas saya.

Video dengan tokoh utama “SBY” ini adalah semacam media promosi yang menjelaskan mengenai dampak rokok bagi kesehatan (kanker paru) yang berujung pada kematian sang perokok.  Tapi bukan itu yang membuat saya tertarik pada video ini…

Di pertengahan hingga akhir video ini, tertulis narasi, kira-kira sebagai berikut…

Dalam rangka memperingati meninggalnya Chrisye,

Penyanyi yang meninggal akibat kanker paru-paru karena konsumsi rokok…

Kami menghimbau para musisi Indonesia yang terlibat dalam promosi atau iklan rokok untuk tidak lagi terlibat dalam iklan atau acara-acara yang disponsori rokok…

Salah satu konser yang disponsori oleh perusahaan rokok (sumber: kebebasan.files.wordpress.com)

Pembatasan penayangan iklan rokok di televisi (hanya bisa tayang jam 21.30-05.00) justru membuat perusahaan rokok makin ‘kreatif’ dalam memasarkan produknya.  Pertama, iklan rokok pada umumnya lebih menarik dibandingkan dengan iklan produk biasa.  Kedua, iklan produk rokok pada jam-jam biasa biasanya ‘berkamuflase’ dalam bentuk iklan acara-acara yang disponsori rokok (konser, “Intersport” sebagai sponsor pertandingan sepak bola, dll), Program Corporate Social Responsibility/CSR (contoh: Beasiswa Djarum, Bulu tangkis PB Djarum, dsb).  Dan ketiga, perusahaan-perusahaan rokok ini menggunakan public figure (umumnya pekerja seni) untuk membintangi iklan atau terlibat dalam acara yang disponsori merk rokok tersebut.

CSR tidak apa-apa. Tapi tidak perlu diiklankan.

Anda pernah melihat iklan Djarum Coklat? Jingle iklan tersebut bahkan dinyanyikan oleh grup band papan atas Indonesia.

Dalam rubrik Kompas Kita di surat kabar Kompas (udah lama banget sih), pernah ada yang pembaca yang menanyakan, kok mau sih band tersebut jadi bintang iklan rokok, padahal kita tahu, rokok memiliki dampak yang negatif bagi kesehatan…

Jawabannya… kita tanya Galileo *halah*.  Jawaban dari pertanyaan-pertanyaan terkait rokok kepada grup band tersebut adalah sebagai berikut.  Saya copas dari sini [Nama grup band disamarkan menjadi *****. Tulisan ini tidak dimaksudkan untuk menyudutkan pihak manapun :) ]

Pertanyaan-1
Saya salah satu penggemar band *****, sebab saya sangat menyukai gaya bermain musik yang ditampilkan *****, yaitu selalu segar dan menyajikan musik yang baru. Namun akhir-akhir ini saya melihat ***** menjadi model iklan atau ikon dari suatu perusahaan rokok nasional. Pertanyaan saya adalah apakah tanggapan dan pendapat ***** terhadap musisi-musisi yang memiliki gaya hidup merokok yang konon memiliki pandangan yang kurang baik ?
Andreas Chan, – Jakarta
Kalo memandang gaya hidup merokok, itu dikembalikan ke masing-masing pribadi. Yang jelas dari kita bisa dibilang segala sesuatu yg berlebihan tidak bagus, jadi hidup itu harus equal dan balance.
Pertanyaan-2
Saya melihat iklan salah satu produk rokok yang memasang kalian sebagai bintang iklan mereka. Mengapa dengan mengabaikan kenyataan bahwa kalian sebagai salah satu bintang yang dipuja ratusan ribu bahkan mungkin jutaan remaja indonesia,kalian dengan mudah mempresentasikan diri sebagai ikon produk yang jelas jelas merugikan kesehatan dan merusak generasi muda kita?apakah demi uang?popularitas?ketenaran?ataukah kalian memang benar benar tidak peduli?
Terry Teresa, – Jakarta
Tidak adil kalo kamu punya opini seperti diatas kalau tidak ada di sisi musisi jaman sekarang, ada banyak hal : – Kalian masyarakat membeli bajakan itu membunuh kita musisi secara perlahan – Rokok adalah sponsor event terbesar di negeri ini, dan karena bajakan, musisi hanya cari uang dari event – Sponsor rokok bukan hanya musik, tapi liga sepakbolapun yang identik dengan kesehatan disponsori oleh rokok, dan banyak pula event sosial juga yang disponsori rokok. – Sebagai remaja adalah tugas orang tua mereka masing2 yang memberi pelajaran.
Pertanyaan-3
*****, Dari beberapa lagunya ***** ketahuan ***** adalah sebuah grup band yang peduli terhadap bangsa dan negaranya. Dan saya tidak mengerti, kenapa ***** juga bisa ikut membuat iklan untuk rokok ? Apakah ***** juga ingin mendukung bangsa ini jadi bangsa perokok, mengingat jumlah perokok remaja sudah cukup tinggi di Indonesia? Apakah pembayaran dari sponsor perusahaan rokok ini sangat fantastis, sehingga uang membuat ***** lupa terhadap kepedulianya?
Jaya Rusli, – Bekasi
Hal pertama yang harus kita ingat ialah semua keputusan ada di setiap individu, sehingga individu itu sendiri yang membuat keputusan. Dimana iklan rokok pun baru dapat ditayangkan diatas jam 10 malam, yang berarti di jam jam itu sudah semestinya anak-anak dibawah umur sudah harus tidur. Tinggal bagaimana tugas orang tua nya saja yang mengawasi anak-anaknya. Lalu bagaimana dengan kejuaraan-kejuaraan olahraga ataupun beragam even-even musik yang dapat menciptakan atlet-atlet ataupun musisi-musisi yang berprestasi sampai ke luar negri? Hampir semua event-even tersebut banyak didukung dan di sponsori oleh produk rokok.

Hm… ada beberapa hal yang nggak saya setuju dari jawaban-jawaban di atas…

Sebagian besar acara musik dan olahraga disponsori rokok

Tanpa sponsor rokok pun, masih banyak produk/brand yang mau mensponsori acara musik dan olah raga.  Buktinya, beberapa konser artis mancanegara dapat diselenggarakan dengan sponsor non-rokok (sebut saja salah satunya, provider telepon seluler Axis *bukan iklan*).  Di event olah raga pun, meskipun masih didominasi oleh sponsor rokok, sebenarnya jika ada kemauan untuk melarang sponsor rokok, banyak kok brand yang mau jadi sponsor.  Misalnya di Liga Primer Indonesia (LPI) musim lalu, Unilever dan Coca-Cola berebut untuk menjadi sponsor.  Dan tentu saja kedua perusahaan tersebut bukan perusahaan rokok kaaan… *maaf saya sebut2 LPI bukan karena pendukung AP :mrgreen: *

LPI (musim lalu) disponsori Coca-Cola

Baru-baru ini, bahkan ada tren baru dalam mensponsori pertandingan olah raga. Yap, partai politik pun nggak mau ketinggalan dalam menyelenggarakan kegiatan untuk ‘mengorbitkan’ atlet muda Indonesia ke ajang internasional, contohnya Tunas Garuda by “partai biru” *bukan kampanye*

Iklan Rokok baru tayang setelah jam 10 malam, dan anak-anak sudah tidur

Seperti yang sudah saya katakan di bagian awal artikel ini, mungkin saja iklan rokok baru tayang setelah jam 21.30, tapi ‘kamuflase’ dari iklan rokok (Iklan konser, tayangan olah raga, dan CSR perusahaan rokok) tidak henti-hentinya ditayangkan dari pagi hingga malam… Dan, jam 10 anak-anak sudah tidur? Siapa yang bisa menjamin…

Kalian masyarakat membeli bajakan itu membunuh kita musisi secara perlahan

Gimana kalau kalimatnya dibalik: kalian para artis mengiklankan rokok itu ‘membunuh’ generasi muda Indonesia secara perlahan :mrgreen:

Ya, dalam hal ini, pendapatan musisi juga memang tidak bisa hanya bergantung dari penjualan album saja.  Tapi, setahu saya iklan yang dibintangi grup band tersebut bukan hanya iklan rokok saja. Masih ada iklan sepeda motor, pernah membintangi iklan salah satu provider telepon selular juga, yang artinya, masih banyak cara untuk mendapatkan pendapatan selain dari iklan rokok.  Dan, IMHO, adalah egois jika kita hanya memikirkan keuntungan kita tanpa memikirkan dampaknya bagi orang lain.

Lagipula, nggak musim ah musisi, selebriti, atau public figure lainnya  mengiklankan rokok. Ajang balap F1, yang mana sebagian besar timnya dulu sangat dekat kaitannya dengan rokok (Honda –> BAT, Ferrari –> Marlboro, McLaren –> West, Renault –> Mild Seven) sekarang sudah tidak lagi menggunakan sponsor rokok tersebut (sumber).  Euro 2012 juga sudah dinyatakan akan melarang penggunaan, penjualan, ataupun promosi rokok di seluruh venue kompetisi tersebut (sumber).

Ya, mudah-mudahan public figure di Indonesia makin sadar akan dampak negatif rokok dan berhenti mempromosikannya.  Karena mereka adalah role model, khususnya bagi generasi muda, sehingga apa yang mereka lakukan akan menjadi contoh bagi para fans-nya.

Jackie Chan: Let's strike back against tobacco

Jackie Chan: Let's strike back against tobacco!! (Sumber: CDC.gov)

Artikel terkait selebriti dan rokok:

Alicia Keys apologizes fans for tobacco ads

Kelly Clarkson Dumps Indonesia Tobacco Sponsor

Celebrities – Anti Tobacco Websites

Fuad Baraja Dukung Kampanye Antirokok

Didi Riyadi Anti Rokok

[Maaf tulisannya kurang banyak memuat data & fakta :mrgreen: ]

Sekali Merdeka (Belum Tentu) Tetap Merdeka

RMS, OPM, GAM.  Tiga organisasi itu, dan mungkin bersama beberapa organisasi lainnya yang saya tidak ketahui muncul karena kekecewaan terhadap NKRI.  Mereka memberontak, ingin melepaskan diri dari Indonesia sebab merasa kehidupan di daerahnya akan lebih baik bila lepas dari Jakarta.

Kadang saya berpikir, ini ada benarnya…

Mungkin ada baiknya jika kita membuat polling di daerah-daerah yang ingin melepaskan diri itu…

Jika Pemilihan Umum digelar hari ini, dan Anda harus memilih apakah daerah Anda akan terus bergabung dengan NKRI atau merdeka, pilih yang mana?

Kalau saya jelas pilih merdeka. Kue Soes Merdeka dari Bandung maksudnya. Hehehe… (bukan iklan :P )

Merdeka Soes. Kali aja penasaran...

Eh, tapi kalau saya benar-benar mengadakan polling itu,  bisa-bisa dipidanakan, mengingat negeri ini sangat sensitif dengan isu-isu yang terkait makar atau mengganggu keutuhan NKRI… *gak jadi bikin polling*

Tapi, Nun Jauh di Inggris sana, ada lho yang membuat polling semacam ini.

Tanggal 13-23 April 2010 yang lalu, John Moores University (JMU)  Journalism menanyakan kepada 542 penduduk Liverpool yang terpilih, “If asked on Election day, would you genuinely vote for a ‘Republic of Liverpool’, independent from the UK?”

Hasilnya, 228 menjawab ya/pro kemerdekaan (42%), sementara 301 (56%) menjawab tidak/pro Inggris.  13 responden (2%) menjawab tidak tahu.

Yang menarik adalah, ketika pertanyaan yang sama diajukan kepada warga Liverpool yang menjadi pendukung Klub Sepakbola Liverpool FC, hasilnya menjadi…

Yap.  7 dari 10 scouser (sebutan untuk warga Liverpool) pendukung Liverpool FC mengatakan setuju untuk memisahkan diri dari Inggris.  Wah wah wah…

Sebagai informasi, polling dilakukan terhadap 105 pendukung Liverpool FC sebelum kick off pertandingan lawan West Ham tanggal 19 April 2010 lalu.

Ya, pendukung Liverpool memang terkenal dengan jargon “we’re not english, we’re scouse”.  Mungkin jika dbandingkan, Liverpool di Inggris ini ibarat Catalan di Spanyol. Menurut artikel di situs JMU Journalism tersebut, kekayaan budaya dan kejayaan di bidang olah raga membuat warga Liverpool lebih bangga atas identitas mereka sebagai scouser dibandingkan identitas sebagai warga Inggris.  Soal budaya, khususnya musik, siapa yang tidak kenal dengan The Beatles? Saking terkenalnya band ini sampai-sampai ada ungkapan bahwa hanya ada dua jenis orang di dunia ini: Orang yang mengenal The Beatles dan orang yang akan mengenal The Beatles.  Soal kejayaan di bidang olah raga, wilayah Merseyside yang memiliki klub sepak bola Liverpool, Tranmere Rovers, Everton, dan mungkin ada klub lainnya merupakan wilayah yang paling banyak meraih gelar juara dibandingkan dengan wilayah lainnya di Inggris.  Liverpool FC sendiri merupakan klub dengan gelar juara Liga Champions terbanyak di Inggris dengan lima trofi kejuaraan antarklub nomor satu Eropa itu.  Hal ini membuat pendukung Liverpool terkenal dengan nyanyian “we won it five times“.  Kekayaan budaya inilah yang menjadikan Liverpool Ibukota Kebudayaan Eropa tahun 2008.

Meski demikian, tidak jelas apakah keinginan sebagian scouser untuk merdeka dari Inggris Raya disebabkan oleh perbuatan semena-mena dari sang pemerintah pusat, seperti yang terjadi di Indonesia.  Yang jelas, ketika ada kekecewaan dan keinginan untuk memisahkan diri, haruskah suatu wilayah tetap bertahan dan menuntut adanya perbaikan? Atau lebih baik mereka mengambil langkah tegas dengan menuntut kemerdekaan, dengan segala risikonya?

Artikel Terkait

JMU Journalism: Scousers split over vote for independence

Kristian Walsh : You English? No, we’re Scouse

Confounder.

Mahasiswa kesehatan masyarakat yang sudah melewati tahun kedua pasti sudah akrab dengan sang “pengganggu” ini.

Seperti namanya, dia cukup mengganggu sih, terutama dalam tugas analisis data.  Apalagi kalau si confounder ini jumlahnya banyak… :D

Saya sendiri sudah lupa, kapan persisnya saya mengenal confounder.  Siapa yang pertama kali memperkenalkannya, saya juga tidak begitu ingat.  Apakah dosen biostatistik, atau dosen epidemiologi, ya kalau tidak salah sih dosen epidemiologi, dalam mata kuliah epid dasar.

Yang menarik, entah mengapa, cara dosen-dosen memperkenalkan confounder nyaris selalu menggunakan contoh yang serupa, yaitu menggunakan trio Rokok – Kanker – Kopi.

Misalnya, ada penelitian yang menunjukkan bahwa minum kopi menyebabkan kanker.  Nah, biasanya orang yang minum kopi juga merupakan perokok, sedangkan penelitian itu, tidak ditanyakan mengenai kebiasaan merokok responden.  Hal ini tentunya dapat menyebabkan kesalahan, apakah kanker itu sebenarnya disebabkan oleh rokok, atau benar-benar disebabkan oleh kopi?

Saking seringnya menjelaskan tentang konfounder dengan perumpamaan di atas, sekali waktu ada seorang teman yang ditanya oleh dosen, “tahu nggak apa itu confounder?” Dia jawab, “Tahu bu. Itu kan, kopi… :mrgreen: “…

Tapi tadi siang, di kelas Analisis Data Penelitian Eksperimen, yang diajar oleh dosen yang menurut saya keren sekali karena lulusan UCLA dan bisa membuat software, ada satu perumpamaan baru tentang confounder yang menurut saya bisa lebih mudah dimengerti dan tidak terlalu meng-awang-awang seperti contoh kanker tadi.

Misalnya, saya akan melakukan uji coba obat pusing.  Uji coba tersebut saya lakukan terhadap mahasiswa, tentunya yang sedang pusing :mrgreen: .  Nah, yang saya nggak tahu, di antara mahasiswa tersebut ada yang sudah makan, dan ada yang belum makan.  Mungkin saja pada mahasiswa yang sudah makan, obat tersebut manjur menyembuhkan sakit kepalanya.  Namun pada mahasiswa yang belum makan, setelah minum obat pun, dia tetap saja pusing, karena pusingnya disebabkan karena belum makan…

Jadi, menurut saya, dalam ilustrasi tersebut, obat pusing adalah exposure, sembuh atau tidak dari pusing adalah outcome, sedangkan confounder-nya adalah sudah makan atau belum.  Hehe… CMIIW :D

Udah dulu ah postingan kali ini.  Sebenarnya saya cuma ingin membiasakan posting blog kembali saja, mengingat sudah cukup lama si Coldwind ini tidak terurus… :( .  Ya, salahkan laporan magang, skripsi, tugas, dan laporan-laporan lainnya :mrgreen: .

Saya hanya berharap agar semua lancar. Amien… :D

Acara Favorit di Bulan Puasa

Acara TV favorit Lupus saat bulan puasa adalah Adzan Maghrib

- Hilman dalam Lupus

Ya, mungkin di bulan puasa ini, adzan maghrib bukan acara favorit Lupus saja ya, tapi acara favorit semua orang.  Cuma, bagi saya dan beberapa orang kurang beruntung lainnya yang tidak memiliki televisi di tempat kost, mungkin adzan maghrib bukanlah acara favorit, melainkan suara yang paling dinanti-nantikan :) .  Bahkan ketika melihat jadwal Imsakiyah Bulan Ramadhan 1432 H ini, yang pertama kali saya lihat bukanlah imsaknya jam berapa, tapi “besok maghribnya jam berapa ya?” Hehehe… :P

Ngomong-ngomong soal jadwal imsakiyah, tahun-tahun lalu saat saya menunaikan ibadah puasa di rumah, ayah saya punya kebiasaan untuk mengkliping jadwal imsakiyah yang ada di surat kabar (biasanya itu merupakan bagian dari iklan Prom*g, Sariw*ngi, Ant*mo, dsb.) dan menempelnya dekat kalender agar kita bisa tahu pasti kapan waktu imsak dan memperkirakan apakah waktu makan kita pas sahur masih lama atau tidak.

Sekarang, ketika saya harus menunaikan ibadah puasa jauh dari rumah, dan nggak langganan koran pula, saya punya cara sendiri untuk menemukan jadwal imsakiyah, yaitu… googling pastinya. Hehehe :D .

Tinggal bika Google, cari kata “jadwal imsakiyah 2011″, ketemu link ini deh. Lalu cari jadwal imsakiyah sesuai kota tempat anda berada :) .

Oh iya, ngomong-ngomong soal adzan maghrib, setiap televisi kan memiliki tayangan adzan maghrib yang berbeda-beda. Ada yang berisi cerita dengan pesan moral tertentu, ada yang menayangkan masjid-masjid unik di Indonesia, atau adapula yang diperankan oleh pemain sinetron :) .  Tapi ada nggak sih di antara Anda yang mempunyai adzan maghrib favorit?

Kalau favorit saya adalah video adzan maghrib yang ada di MetroTV (nggak tahu sekarang masih itu bukan ya video adzannya. Udah lama nggak nonton TV).  Kenapa bisa jadi favorit saya?  Ini nih, pesan yang disampaikan dalam video adzan tersebut…

Dunia memiliki perbedaan waktu antara satu wilayah dengan wilayah yang lain
Sebelum adzan subuh sempat berkumandang di wilayah terbarat Benua Afrika, adzan dzuhur pun siap berkumandang di belahan dunia lainnya
Sementara kumandang adzan dzuhur belum sempat terdengar kembali di bagian timur Indonesia, adzan ashar telah siap menjelajah belahan dunia lainnya
Saat gema adzan ashar belum selesai, adzan maghrib telah merambah bumi ini.  selang beberapa saat, adzan isya pun siap melanjutkan
Ketika gema adzan isya belum selesai di Benua Amerika, Adzan Subuh kembali terdengar di sebagian wilayah Indonesia
Seiring bergantinya siang dan malam ternyata adzan akan selalu berkumandang di bumi ini
Tanpa kita sadari, para muadzin di seluruh penjuru dunia ini tak henti-hentinya bersahutan mengumandangkan adzan
Insya Allah, gema adzan akan terus mengawal dunia berputar hingga akhir zaman

Mau lihat video adzannya? Ini dia…

Selamat Berpuasa.  Semoga Ramadhan kali ini lebih baik dari Ramadhan tahun sebelumnya.  Amien :D .

Postingan tentang Kereta *sambil bersihin debu*

Setelah lama tidak menyentuh blog ini, akhirnya sekarang sempat posting juga… *bukapintu* *bawasapu* *bersihinlantai* *hatsyi* (–’)

Tahukah Anda bahwa KRL Ekonomi disubsidi oleh pemerintah?

Saya baru tahu lho. Baru tahu setelah membaca spanduk di Stasiun Pondok Cina ini…

KRL Ekonomi Disubsidi, Diperuktukkan bagi RAKYAT KURANG MAMPU :)

Dan, terima kasih kepada pengguna KRL Commuter Line yang tak disubsidi…

Selain sebagai sarana sosialisasi, pesan yang saya tangkap dari spanduk ini adalah, PT KAI berusaha mengajak masyarakat yang merasa ‘mampu’ untuk naik KRL Commuter Line, karena tidak disubsidi. Dan jika mereka naik Commuter Line, maka mereka telah menyumbangkan sekian rupiah untuk pembangunan dan kemajuan bangsa…

Namun, bagi saya spanduk ini sama sekali tidak berpengaruh terhadap keputusan saya dalam memilih kereta yang mana yang akan saya tumpangi. Mengapa?

Meski tidak yakin apakah saya tergolong rakyat tidak mampu atau bukan, saya cukup sering naik kereta ekonomi. Alasannya, bukan hanya karena harganya yang lebih murah, tapi juga karena seringkali kereta ekonomilah yang berangkat duluan :) .

Kadang saya merasa kualitas kereta ekonomi dan ekonomi AC (atau yang sekarang disebut dengan Commuter Line) tidak jauh beda. Baik kereta AC maupun AG (Angin Gelebug) sama-sama dinginnya. Dua-duanya ada kipas anginnya. Seringkali AC pada kereta Commuter Line juga tidak hidup. Kalau penuh, ya, suhunya sama-sama panas juga :) .

Oh iya, mungkin satu hal yang membedakan KRL Ekonomi dan Ekonomi AC adalah: Jumlah kejadian kecopetan yang dialami penumpangnya. Selama saya menjadi pengguna KRL Jabodetabek, belum pernah tuh ada yang kecopetan di kereta Ekonomi AC. Kalau di  KRL Ekonomi sih, sering banget. Modus sang pelaku biasanya menyilet tas/pakaian korban atau menjambret. Biasanya yang menjadi korban adalah penumpang yang berposisi berdiri/duduk dekat pintu dan sebagian besar berjenis kelamin wanita.

Mungkin hal itu pulalah yang membuat gerbong khusus wanita perlu dibuat.

Jadi, inti dari cuap-cuap saya kali ini adalah…

Bukan soal subsidi atau non-subsidi. Bukan soal status mampu atau kurang mampu yang menentukan seseorang untuk memilih jenis KRL yang akan ditumpanginya, melainkan kualitas.  Kalau kualitas KRL Ekonomi dengan Commuter Line tidak jauh beda, ya mendingan naik ekonomi lah… Rugi beli karcis AC.  Hehe.

Sekian dulu postingan kali ini. Maaf bila agak aneh. Maklum, udah lama ga posting blog. Ini juga nulisnya sambil bersihin debu *hatsyi*.

Dan, mengutip kata-kata Maissy: Sampai Jumpaa… ;)

Fokus dek!! Fokuss…!!!

Fokus. Itulah kata-kata yang sering diteriakkan mahasiswa senior kepada para mahasiswa baru (maba) saat OKK (Orientasi Kegiatan Kampus), terutama saat ada senior yang berorasi di depan podium, sedangkan maba-mabanya malah bengong, nggak konsentrasi. Mungkin mengantuk kali ya, gara-gara malamnya mengerjakan tugas OKK yang menumpuk. Hehe :P

Jujur, waktu maba saya teriakan “fokus, dek! Fokuss!!” itu terdengar sangat menyebalkan.  Tapi, kayaknya semua tindak-tanduk senior saat kita menjadi mahasiswa paling junior memang menyebalkan yah. Heu…

Tapi, sekarang saya merasa kalau kata itu – fokus – merupakan hal yang sangat saya butuhkan.  Kenapa?

Seringkali saat saya mengerjakan tugas, saya merasa tidak fokus dan ingin tidur saja.  Nah, setelah saya menutup buku atau mematikan notebook dan berbaring, bukannya tidur, malah mikirin tugas.  Karena nggak bisa tidur, ya sudah, saya nyalakan notebook lagi.  Eh, bukannya mengerjakan tugas, malah internetan (dan yang paling sering malah browsing tentang Liverpool). Kumaha yeuh… (–’)

Yah, saya sih maunya saya bisa menjadi orang yang fokus.  Saat mengerjakan tugas, fokus mengerjakan tugas. Saat istirahat, fokus istirahat.  Tapi susah… Kenapa ya? Saya sih curiganya jangan-jangan karena kurang nutrisi. Maklum anak kost… :)

Yah, untuk sementara, saat tidak bisa fokus, saya hanya bisa berteriak kepada diri sendiri…

… fokus euy!! FOKUSSS!!!

Pertanyaan: Apakah mantera “hokus pokus” itu ditujukan untuk membuat kita fokus? Hehe… Nggak penting yah. Abaikan sajalah :P